Munculnya Gerakan Penyadaran dalam Penanggulangan Bencana
Tulisan ini muncul terinspirasi dari timbulnya bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta yang datang silih berganti, baik saat tahun 1994 gunung Merapi di kala itu meletus dan menewaskan beberapa warga dusun Turgo, dan sekitarnya khususnya kawasan desa Purwobinangun dan Hargobinangun Pakem maupun saat erupsi tahun 2010 lalu.
Letusan tahun 1994 masyarakat masih enggan mengungsi untuk menjauh dari bahaya erupsi, karena terpengaruh mitos yang turun temurun diyakini oleh masyarakat setempat bilamana belum didapati hewan belum turun, Merapi masih dianggap aman. Terlebih lagi bila seorang juru kunci yang kala itu dijabat oleh Bekel Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan Mbah Maridjan (alm) belum memberikan sinyal untuk menjauh dari lereng Merapi.
Bahaya erupsi, gempa, tanah longsor, dan angin puting beliung akhirnya memjadi penanda bagi manusia agar merekapun bisa bersahabat dan tanggap terhadap apa yang bisa terjadi sewaktu-waktu muncul dari reaksi alam itu sendiri, dan dari kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah manusia.
Diawali dengan adanya erupsi Merapi 2006 yang memakan korban jiwa dua relawan yang tewas di dalam bunker dusun Kaliadem, disusul dengan adanya gempa dahyat di selatan kota Yogyakarta Khususnya Bantul, Berbah, Prambanan, dan sekitarnya yang menelan korban tidak sedikit dan empat tahun kemudian disusul dengan bencana erupsi Merapi tahun 2010 yang meluluh lantakkan daerah Cangkringan, Klaten,Magelang dan sekitarnya.
Korban jiwa dan kerugian material yang luar biasa mendorong gerakan sadar bencana di kalangan masyarakat dan menghidupkan gerakan persaudaraan yang luar biasa. Melalui gerakan relawan inilah kita mulai memandang betapa penting masalah tanggap bencana perlu di ditanamkan kepada semua lapisan masyarakat.
Di Lereng Merapi muncul Tagana, di Berbah ada Forum Guru Peduli Bencana dan Jogja Rescue. Kemudian ada POS PMI di setiap kecamatan, banyak Komunitas SAR yang tumbuh , dan upaya memasukkan bencana alam dalam kurikulum pendidikan. Ditambah lagi munculnya sekolah siaga bencana yang diprakasai oleh SMK Nasional Berbah yang ditetapkan oleh Bupati Sleman di Tahun 2013.
Munculnya gerakan penyadaran ini sungguh membanggakan bagi pemerintah daerah Kabupaten Sleman. Semoga gerakan penyadaran ini juga terus dapat dipelihara dan didorong . Syukur kalau pendidikan kebencanaan ini juga diberikan sejak usia dini, Semoga.