PENAMBANGAN PASIR YANG BERLEBIHAN DI CANGKRINGAN UTARA APAKAH BERDAMPAK PADA SUMBER MATA AIR?

0

Penambang pasir di lahan warga dan di sungai Gendol, Opak Cangkringan sisi utara meluas.
CANGKRINGAN. Pengambilan material Merapi baik pasir, batu, kerikil, banthak yang dilakukan secara manual maupun dengan alat berat di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini masih berlangsung. Aktivitas penambangan berada di Sungai maupun di lahan pekarangan warga, ironisnya penambangan sudah berlebihan ( cukup dalam, sebagian bukan material erupsi 2010, tebing-tebing lama ikut diambil ).
Paska Erupsi Merapi 2010 tumpukan material di Sungai Opak, Gendol maupun dilahan pekarangan warga Cangkringan cukup banyak. Selama 5 tahun ini pengambilan material dilakukan secara besar-besaran, baik secara manual maupun dengan alat berat, material tersebar di beberapa daerah di Jawa ( lokal, klaten, solo, purwodadi, semarang, Jepara, dll ). Saat ini material yang ada di Cangkringan sisi selatan bisa dikatakan habis, sehingga penambangan terpusat didaerah atas, dekat Kaki Merapi (Bagian hilir, Cangkringan sisi utara ).
Berdasarkan pengamatan di lapangan hari Ahad tanggal 8 februari 2015, di Cangkringan sisi utara baik seputar Dusun Kali Adem, Jambu, Petung, Tugu Ambruk, Kepuharjo, terlihat aktivitas penambangan di Sungai Opak, Gendol maupun di lahan warga baik manual ataupun pakai alat berat. Diantaranya adalah penambangan dengan alat berat, di lahan pekarangan, tepatnya di sebelah barat Jembatan Tugu Ambruk barat Dusun Petung lama Desa Kepuharjo. Nampak areal sudah dalam dan lebar, material bukan hasil erupsi 2010 tetapi nampak material/tanah asli sebelum erupsi, kemudian Penambangan di alur Sungai Gendol tepatnya timur Dusun Kali Adem dengan alat berat dan masih banyak tempat lain yang serupa. Para Penambang berkali-kali di tegur dan dilarang melanjutkan aktivitasnya, namun aturan tersebut hanya diindahkan beberapa hari saja.
PETANYAANNYA:
1. Situasi dan Kondisi tersebut di atas apakah berdampak pada sumber mata air?
2. Bila berdampak, daerah / warga mana yang terkena dampak tersebut?
3. Selang waktu berapa lama warga kena dampak?
4. Di musim Penghujan ini, di Cangkringan sisi selatan, air di sungai-sungai kecil debitnya hanya kecil, nah kondisi demikian apakah ada kaitannya dengan hal di atas?
5. Bila hal di atas berdampak, mumpung belum terlalu jauh, bagaimana solusinya, siapa saja yang harus melangkah, dan sebagainya?

Apabila Jawaban Pertanyaan di atas adalah berdampak pada sumber mata air, maka apabila tidak secepatnya dilakukan penanganan secara serius, bukan tidak mungkin ke depan daerah, warga, masarakat terdampak, menjadi kesulitan air / kekeringan , bencana kekeringan. Wallohu Alam Semoga tidak demikian, Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.