ERUPSI MERAPI BENCANA MEMBAWA BERKAH

Peristiwa Erupsi Merapi 2010 merupakan kejadian yang dahsyat / luar biasa, karena ratusan tahun baru tahun tersebut Merapi alami Letusan yang sangat besar hingga meluluh lantakkan aset-aset yang ada di sekililingnya, termasuk kurban manusia. Empat tahun sudah erupsi besar berlalu tinggal menyisakan bekas-bekas material yang berserakan yang dapat dijumpai di beberapa lokasi. Bagi masarakat kususnya Cangkringan waktu itu, erupsi Merapi merupakan Bencana Malapetaka, namun dengan berjalannya waktu justru membawa berkah bagi sebagian anggota masarakat.
Pasca Erupsi tumpukan material berserakan di mana-mana, baik di pemukiman penduduk, di sawah ladang, di jalan raya, apalagi di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Di awal 2011 penambangan / normalisasi pengambilan material dimulai, terutama yang berada di alur sungai, terutama Gendol, Opak dan Kuning maupun Boyong. Waktu itu pengambilan material terpusat di sisi bawah seputar Kalasan, Ngemplak, Sindumartani, Argomulyo, Wukirsari ada yang di kelola oleh Desa dan ada yang sifatnya perorangan,bagi Desa yang mengelola dengan tepat maka kas Desa akan menjadi besar. Sedang yang dikelola perorangan, hanya segelintir orang tersebut yang merasakan.
Waktu itu di seputaran daerah tersebut bermunculan konglomerat-konglomerat baru, karena terpantau kiprahnya di giat penambangan pasir. Bagi warga masarakat yang kebetulan lahan sawah kebunnya, maupun rumahnya tertimbun material ini merupakan kesedihan yang luar biasa karena lahan tidak bisa ditanami rumah tak bisa di diami, namun beberapa tahun kemudian seiring habisnya material yang ada di sungai material yang di lahan sawah maupun rumah mulai laku dijual. Menurut pengakuan beberapa warga yang tidak mau disebut namanya hasil dari penjualan material yang ada di lahan cukup banyak, malah dengan harga tanah bila dijual malah lebih tinggi hasil penjualan material.
Seiring dengan berjalannya waktu material yang ada di bawah mulai menipis bisa dikatakan habis, kemudian para pembeli material beranjak ke daerah atas baik di kali maupun yang ada di lahan. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan penambangan / normalisasi di derah atas ( Kepuharjo, Glagaharjo }semakin ramai otomatis aktifitas warga setempat mulai giat bekerja baik sebagai penambang, pengelola alat berat, tukang thoker, tukang parkir, penjaga DO, penjaga Portal, penjaja makanan minuman, cucian armada truk, tukang tambal ban truk, dll.
Ditemui disela-sela kerjanya Pak Gareng yang kesehariannya sebagai tukang thoker mengatakan bila beruntung sehari bisa mengantongi uang 250.000 sampai 400.000, itu baru tukang thoker belum yang menambang, pengelola alat berat dan yang punya lahan. Sehingga wajar kalau sekarang sebagian saudara-saudara kita yang dulunya ( sebelum erupsi 2010 } hidup biasa-biasa dan sekarang banyak yang berubah menjadi terlihat lebih baik / misal memiliki mobil, rumah lebih bagus, punya armada truk, dll fasilitas yang mereka punya. Itu semua menunjukkan bahwa Erupsi Merapi 2010 pada awalnya merupakan bencana tetapi berangsur-angsur dengan berjalannya waktu dan kondisi, bagi sebagian anggota masarakat Cangkringan justru sekarang mereka rasakan sebagai berkah dari ALLOH AZZA WA JALA. Harapan semoga saudara-saudara kita seperti di atas dapat mengelola / memenet keuangannya dengan tepat, sehingga tidak terseret ke hal-hal yang justru bisa mencelakakan diri dan keluarganya. Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.