KOMUNIKASI / INFORMASI VIA KENTONGAN PERLU DIHIDUPKAN KEMBALI

Kentongan merupakan alat yang digunakan untuk memberi informasi tentang sesuatu hal / kejadian dengan cara memukul sesuai kode-kode yang telah menjadi kesepakatan di masarakat, di beberapa daerah masih ada yang eksis, namun di sebagian besar daerah sudah tidak memakai lagi karena tergeser dengan alat lain yang dirasa lebih canggih. Berdasar pengalaman selama ini, alat-alat komunikasi moderen disaat-saat tertentu mengalami kebuntuan sehingga mengakibatkan informasi tidak dapat disampaikan dengan tepat dan cepat, maka perlu sekali dicari alat alternatif yang pas, dan alat tersebut tidak lain adalah Kentongan.
Di Pulau Jawa kususnya Jogjakarta, lebih kusus lagi Kabupaten Sleman era tahun 1970-an , untuk memberikan informasi kepada masarakat perihal ada sesuatu kejadian, itu dilakukan dengan tanda kas alat manual yakni memukul Kentongan. Baik pagi siang atau malam apabila terdengar suara Kentongan dipukul dengan kode-kode tertentu masarakat akan tau pesan informasi yang disampaikan, misal tanda ada orang meninggal, ada kebakaran, da maling dll.
Perkembangan alat komunikasi yang sangat canggih seperti HP, HT, TV, Radio dll, mengakibatkan Kentongan banyak ditinggal dan tidak dipakai lagi oleh sebagian besar masarakat. Ketika situasi sangat darurat misalnya di malam hari hujan lebat, listrik mati, gunung meletus, maka HP, HT, TV, Pengeras suara tidak akan efektif memberikan info penting kepada masarakat, maka perlu Kentongan sebagai alat penyampai informasi juga digunakan, sehingga keduanya akan saling membantu menyampaikan pesan kepada masarakat.
Untuk itu perlu disosialisasikan kembali tentang budaya memukul kentongan sebagai penyampai pesan, apalagi di daerah-daerah rawan terhadap bencana misal di Cangkringan, Pakem, Turi, Ngemplak dan lainnya. Biar pengertian masarakat tidak keliru tafsir terhadap isarat Kentongan yang dipukul, perlu diungkap kembali aturan / kesepakatan tentang Isarat Tanda Bunyi Kentongan.
Berikut Tanda Bunyi Kentongan sesuai Instruksi Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor: 5/INST/1980, SBB:

TANDA BUNYI KENTONGAN

1. Keadaan Aman : – – – – – – v – – – – – – (doro muluk).
– Keadaan aman, keadaan aman kembali.

2. Keadaan Siap/Waspada : 00.00.00 ( dua-dua )
-Kemungkinan akan terjadi bencana alam atau kejahatan, keadaan samar-samar, mencurigakan, mempersiapkan massa/diri.

3. Kejahatan Khusus : a. Rojokoyo hilang, al:
000.000.000 – Kerbau hilan.
( tiga – tiga ) -Sapi hilang, dll.
b. Pencuri alat-alat komunikasi.
c. Pencurian biasa / ringan.
4. Kejahatan Besar : a.Penggedoran.
0000000.0.0000000. b. Pencurian dengan perlawanan.
c. Pembunuhan.
d. Pembegalan.
e. Penjambretan dengan sepeda motor.
5. Bencana Alam : a. Banjirbiasa / Lahar Dingin.
0000000000000000 b. Angin Taufan.
( titir ) c. Kebakaran.
d.Tanah Longsor.
e. Gunung Berapi.
f. Binatang Buas dll.
6. Kematian : Ada orang meninggal dunia.
– – – V – – – – – – v – – –
( Doromulutk diulang dua kali ).

Demikian tanda-tanda isarat memukul Kentongan yang selama ini menjadi acuan masarakat DIY kususnya dalam penyampaian pesan informasi, akan lebih lengkap apabila budaya memukul Kentongan dihidupkan kembali sebagai pelengkap Mitigasi Bencana baik Bila ada Erupsi Merapi, Banjir ( lahar hujan ), ada Pencurian dll, disamping lat-alat moderen. Bahan yang digunakan bisa dari bambu, akar bambu, atau kayu yang sudah keras ( jawa Athos ), bila tak sempat membuat sendiri bisa membeli di produsen Kentongan, misal di Kecamatan Cangkringan di Bp Hadi Sutrisno / Adi Tukimin, dengan alamat Dusun Jetis, Argomulyo, Cangkringan, Sleman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.