WORKSHOP SISTIM PERINGATAN DINI BANJIR LAHAR HUJAN KALI BOYONG, OPAK DAN GENDOL

BPBD Sleman bekerja sama dengan BPBD DIY mengadakan Workshop sehari, membahas masalah Sistim Peringatan Dini Banjir Lahar Hujan di tiga Sungai yang berhulu di Merapi, yakni Sungai Boyong, Opak dan Gendol. Beberapa Nara Sumber dihadirkan untuk memaparkan materi di bidangnya masing-masing, yang berkaitan dengan Banjir Lahar Hujan.
Salah satu tahapan dalam Pengurangan resiko bencana adalah Peringatan sedini mungkin tentang kemungkinan akan datangnya suatu bencana, diharapkan begitu suatu peristiwa yang beresiko datang, warga sudah mengantisipasi terlebih dulu, entah menyingkir atau tehnis lainnya sehingga jatuhnya kurban dapat dihindarkan. Banjir lahar hujan berpotensi menimbulkan bencana sehingga peringatan dini sangat diperlukan, lebih dari 25 alat terpasang di 3 sungai tidak kurang dari 15 alat berfungsi untuk Peringatan dini banjir lahar hujan.
Workshop yang diadakan hari Selasa 28 Oktober 2014, di Edden 2 membahas dan mendiskusikan EWS yang sudah terpasang dapat efektif dan tepat bagi mitigasi banjir lahar hujan. Untuk mendukung pembahasan akar masalah dipaparkan 3 materi, yakni Integrasi EWS Lahar Hujan dan Awan Panas OLEH BPBD Sleman, Kondisi terkini Gunung Merapi oleh BPPTKG, EWS Lahar Hujan oleh BBWSSO. Wokshop diikuti sebanyak 30 orang yang terdiri dari unsur instansi terkait, para Kepala Desa terdampak, Para Petugas EWS, sebagian Komunitas Relawan.
Dalam sambutan tertulisnya Bp Gatot Saptadi yang dibacakan Pak Heru Siswanto, “ Sistim Peringatan Dini adalah sebuah keharusan dan dikelola dengan baik serta peran aktif masarakat harus dimaksimalkan, sehingga apabila EWS diaktifkan respon masarakat dengan cepat tanggap. EWS harus memenuhi 4 hal, mudah diakses, mudah dipahami, dapat dipercaya, dan ditindak lanjuti. ………….. “.
Pak Agus Budi Santoso dari BPPTKG, mengatakan “ Aktivitas Gunung Merapi saat ini normal dan belum ada gejala akan adanya siklus magmatik baru, secara probabilitas statistik letusan ke depan diperkirakan akan lebih kecil dari pada letusan 2010, meski demikian skenario letusan besar tetap dipertimbangkan, tantangan saat ini adalah membaca perubahan karakter G. Merapi termasuk gejala letusan-letusan minor, dari segi tumpukan material masih cukup banyak bila terjadi hujan lebat di Puncak potensi banjir cukup tinggi “.
Sedang menurut Pak Heru Saptono, dalam paparannya “ Beberapa permasalahan masih dijumpai dalam EWS baik peralatan, maupun operatornya, tehinis pengelolaannya. Pengelolaan peralatan masih sendiri-sendiri, juga sistim operasionalnya, tujuan pemasangan peralatan masih berdasarkan kebutuhan instansi masing-masing, sehingga itu semua agar bisa diatasi perlu pengintegrasian “.
Disesien diskusi tanya jawab muncul beberapa usulan, masukan, harapan dari peserta. Rangkuman diskusi menjadi bahan bagi BPBD DIY untuk ditinjak lanjuti, salah satunya minggu depan BPBD Sleman akan membuat SOP EWS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.