KADER KELUARGA TANGGUH BENCANA, PERLUKAH?

“Dalam urusan bencana tidak boleh terkotak-kotak. Kita harus bersatu padu karena penanggulangan bencana urusan bersama” -Doni Monardo-
Pernyataan Kepala BNPB tersebut disampaikan saat peluncuran program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) di Pasie Jantang,Aceh Besar 7 Desember 2019.
Untuk urusan kebersamaan bagi masyarakat Sleman sudah tidak diragukan lagi dan sudah teruji saat terjadinya bencana alam baik saat erupsi gunung api Merapi (2010) maupun saat terjadinya gempa yang melanda Bantul, Sleman dan sekitarnya  (2006).
Kenangan tersebut tentu tak akan pernah terlupakan begitu saja, apalagi adanya begitu banyak korban.
Berbagai upaya penguatan pasca terjadinya bencana terhadap masyarakat banyak dilakukan oleh komunitas dan pemerintah untuk pemulihannya. Namun saat itu,penguatan dilakukan masih masih secara kelompok masyarakat di tingkat desa.
Kita bersyukur bahwa kultur kegotong -royongan masyarakat Indonesia, utamanya Sleman masih begitu kuat dan tak terbatas. Dengan munculnya program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) sesungguhnya akan semakin membumikan masyarakat yang sadar bencana dan lebih sempit lagi Keluarga Tangguh Bencana, didalamnya keluarga bisa dengan jeli mewaspadai dan selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana dengan menentukan sendiri titik kumpul keluarga,  bagaimana carapenyimpanan dokumen-dokumen penting, berkomunitas dengan tetangga terdekat untuk secara bersama sama melakukan evakuasi mandiri (EM).

Perlu Penajaman Pelatihan (workshop Katana).Untuk penguatan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) tampaknya masih diperlukan penguatan melalui workshop atau pelatihan bagi Kader Keluarga entah dilakukan oleh komunitas maupun oleh instansi terkait sehingga harapannya di tingkat keluargapun semakin sialam tangguh.ap untuk selamat, s