Mereka Yang Tak Mengenal Lelah

Anda semua mungkin masih dapat mengingat banyak peritiwa dramatis dalam penanggulangan bencana yang dilakukan dengan heroik, tulus, dan rasa penuh keikhlasan karena naluri manusiawinya dari para relawan sejati. Salah seorang adalah Purwadi yang berasal dari Dusun Kaliurang VII, Hargobinangun.

Bila melihat kehidupan sehari- harinya mungkin kita tidak percaya dengan pembawaan kesehariannya yang tampak lugu, dan bahkan terkesan pendiam tidak banyak bicara.  Naluri kemanusiaannya tumbuh karena kedekatannya dengan alam khususnya di kawasan lereng Merapi dan sekitarnya. Dekat dengan pendaki Merapi yang pernah ditolongnya ketika mengalami musibah ketika melakukan pendakian termasuk warga Amerika yang pernah ditolongnya bersama dengan TIM SAR Kaliurang.

Ia juga ikut melakukan evakuasi dua relawan yang tewas di bunker Kaliadem 2006 yang begitu menegangkan karena selain kondisi sisa guguran lava yang sangat panas dan bahaya guguran lava panas yang bersuhu sangat tinggi dapat mengancam jiwanya setiap saat meskipun sudah mengenakan pakaian anti panas.

Tatkala terjadi bencana gelombang tsunami di Banda Aceh, ia juga ikut menjadi salah satu anggota Tim Relawan utusan Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk di Bantul, maupun peristiwa erupsi Merapi 2010. Sebagai penghargaannya atas semua jasa pengabdian yang tinggi beruntung dia kini menjadi pegawai negeri sipil di Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Sleman.

LIVE MUSEUM Prof. Dr. SARWIDI

Mungkin orang akan penasaran dengan museum yang satu ini, ada apa dengan museum gempa dan apa saja koleksinya? mengapa diberi nama live museum dan seterusnya. Museum ini sebenarnya sudah berdiri kurang lebih selama tiga tahun yang lalu yang didirikan sendiri secara swadaya oleh Prof. Dr. Sarwidi yang notabene penduduk asli Kaliurang, yang lahir dan dibesarkan di Kaliurang dibawah lereng gunung paling aktif di dunia yaitu Merapi, . Biasanya museum ratarata museum pribadi didirikan setelah pemilik koleksi sudah meninggal dan justru inilah yang membuat unik, karena beliau mengghendaki museum ini menjadi tempat belajar dan ditujukan agar pengunjung dapat menimba ilmu tentang bagaimana menyikapi bencana khususnya gempa, dan mengapa gempa itu harus ada dan bagaimana seandainya gempa itu tidak pernah ada.Isi koleksi museum ini sangat unik dan karena berisi hasil uji coba sang pendiri yang semuanya didedikasikan untuk negeri yang sudah dipatentkan oleh Prof. Widi dan diakui oleh dunia. Siapa saja yang dapat berkunjung ke museum ini? Tentu semua saja mulai dari keluarga, anak Usia TK sampai dengan mahasiswa bisa berkunjung di tempat ini sambil menikati kesejukan Kaliurang yang secara kebetulan dikitari dengan kawasan rekreasi outbond yang di paketkan dengan paket wisata yang ada di Kaliurang, misalnya dengan berkunjung ke Taman Rekreasi Anak Anak, naik Landi (Landrover) bersama keliling Kaliurang dan sekitarnya, menanam memorial Trees, Soft Bond, dilanjutkan kunjungan ke museum.
Koleksi museum berupa karya cipta dan uji coba bangunan tahan gempa, prototipe rumah tahan gempa (Barataga), alat uji coba / simulasi bangunan tahan gempa (simutaga), dan foto-foto, dokumen peristiwa gempa di penjuru Indonesia dan di belahan dunia yang dikunjungi Prof. Sarwidi dan berbagai macam koleksi yang berjumlah sekitar 56 item. Semoga dengan kehadiran museum ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan para relawan dan masyarakat dalam menyikapi diri ketika ada bencana seperti gempabumi yang pernah terjadi di Yogyakarta tahun 2006 yang lalu. (admin 13)

2012 DITERJANG BANJIR LAHAR DINGIN, 2015 MENJADI KAMPUNG WISATA “KAMPOENG WISATA MATA AIR TEPLOK”

Morfologi berubah akibat terlanda banjir, Teplok bangkit, Kampung Wisata.

TEPLOK – ARGOMULYO. Dusun Teplok, Argomulyo, Cangkringan, Kabupaten Sleman paska terlanda banjir sungai Opak 2012, bangkit berbenah diri awal 2015 merintis dusun kunjungan wisata, dan April Mei 2015 ini menyatakan diri sebagai Kampung Wisata.
Letak geografis Teplok sangat strategis, 15 KM selatan Merapi, di tepi sungai Opak, dan sungai Suko, dikelilingi hamparan sawah yang indah, Tebing dan tanggul, Jembatan tinggi, terlebih akibat banjir 2012 menjadikan banyak perubahan tempat yang menjadi lebih indah.
Ditemui dirumahnya Bp Taman Waluyo sebagai Pengelola Kampung Wisata, mengatakan “ Melihat potensi daerah cocok untuk Wisata Out Bond, maka mulai 2015 diadakan rembuk Dusun membahas hal tsb, akirnya warga sepakat memulai merintis Teplok sebagai Dusun Wisata, di sepakati diberi nama “Kampoeng Wisata Mata Air Teplok’, namun sampai saat ini belum dikepyake secara resmi namun sudah mencoba menerima kunjungan wisata, tercatat sudah 2 kali dari SMA Jogja”.
IMG_9405
Fasilitas sementara yang tersedia, diantaranya:
1. Tempat menginap,
2. Aula,
3. Lapangan,
4. Bermacam-macam Permainan menarik,
5. Tempat Kemping,
6. Susur sungai,
7. Tempat nyaman dan sejuk,
8. Bajak sawah dengan Hewan,
9. Pemancingan,
10. Toilet di tempat bermain 14 kamar,
11. Permainan gantung / dalam proses,
12. Prau Ban / dalam proses,
13. Jajanan Kuliner,
14. Masjid,
15. Siraman Rohani / bila dibutuhkan tenaga siap.
IMG_9406
Wardani salah satu pengurus, mengimformasikan “ Pembiayaan dengan sistim Paket harian, mulai Rp 50.000,- perorang hingga ratusan ribu, melayani Pelajar, Mahasiswa, Pegawai Kantor, dll. Pemesanan kunjungan 1 Minggu sebelumnya di Kantor sekertariat : Dusun Teplok Desa Argomulyo Kec. Cangkringan Kab. Sleman dengan No Telp. 081904161869 Pin BB 32F21389 atau facebook:Kampoeng Wisata Teplok.
IMG_9408

JEMBATAN POLSEK BUBRAH CANGKRINGAN RUSAK

Konstruksi jembatan dari besi, menggantung, bantalan kayu, untuk lewat bergerak, aspal terkelupas dan berlobang.

ARGOMULYO – CANGKRINGAN. Jembatan yang melintasi sungai Opak di utara dusun Panggung, Argomulyo, Cangkringan, Sleman terkenal dengan sebutan “Jembatan Polsek Bubrah” kondisinya semakin rusak, sehingga membahayakan bagi pengguna jalan.
Jembatan tersebut termasuk jalur fital bagi warga Cangkringan kususnya Argomulyo, baik sebagai jalur evakuasi, pendidikan maupun perekonomian. Bila sungai Gendol terjadi banjir yang membahayakan, warga dusun Suruh / Bronggang dan sebagian Jetis menyingkir / ngungsi melewati jembatan ini, disamping para pelajar dan pedagang yang menuju ke Pakem.
Kondisi jembatan saat ini: IMG_9386
– Aspal banyak yang erkelupas,
– Jalan berlubang-lubang,
– Bantalan kayu sebagai penyangga aspal banyak yang kelihatan,
– Jembatan sempit,
– Pengaman kiri kanan jembatan terlalu lebar sehingga membahayakan pengguna jalan / bisa jatuh ke sungai yang cukup dalam,
– Lampu penerangan tidak berfungsi.
– Tidak dilewati pengangkut material Merapi. IMG_9393
Alvia warga dusun Jetis Argomulyo, sekolah di SMA Pakem mengatakan “ Jembatan ini akses saya ke sekolah ( ke Pakem ), walaupun rusak saya tetap lewat di situ, nggak tahu kok tidak di perbaiki “. Bapak Ngatman warga dusun Karanglo yang berprofesi sebagai pedagang Pasar Pakem berharap, “ Pemerintah yang terkait cepat memperbaiki Jembatan Polsek Bubrah, karena itu jalur penting “.
IMG_9395

MISTIS DAN KEHIDUPAN WARGA LERENG MERAPI PASKA ERUPSI 2010

Kultur warga Lereng Merapi kususnya di Cangkringan paska Erupsi 2010, bagaimana pandangannya dengan hal-hal yang bersifat Mistis.

CANGKRINGAN – SLEMAN. Warga masyarakat Lereng Merapi kususnya di Kecamatan Cangkringan di 2015 ini, sebagian masih kental dengan hal-hal yang berbau mistis, terbukti banyak kejadian yang mereka anggap sebagai ulah mahluk ghoib, walaupun secara ilmu ataupun medis dapat dibuktikan.
Sebelum Erupsi Merapi 2010 kultur sosial masyarakat Cangkringan, kususnya di Lereng Merapi mempunyai ciri kas tersendiri, yakni sangat kental dengan hal-hal yang ghoib / mistis / supranatural. Salah satu diantaranya adalah peningkatan aktifitas Gunung Merapi hingga meletus, informasi berdasar tehnologi / alat, kadang tidak begitu dihiraukan kalah dengan informasi yang datang dari seseorang yang dituakan ( Sesepuh, dukun, dll ).
Penelusuran di lapangan di 2015 ini kultur tersebut masih kental di sebagian warga, diantaranya:
-Awal April 2015 salah seorang warga dusun di desa Kepuharjo Cangkringan meninggal dunia, meninggal dalam usia 35 tahun. Oleh salah satu rumah sakit ternama di Jogja, yang bersangkutan dinyatakan mengidap penyakit yang sudah kronis, namun menurut sebagian warga, meninggal karena kesambet (jawa) makluk goib penunggu sungai . Seperti penuturan salah seorang warga , “ Pak … meninggal bukan karena sakit, namun 1 bulan sebelum meninggal dia diganggu penunggu sungai Opak, la kok malah diminta nyawanya “,
-Dalam hal menambang material pasir Merapi, 2 Orang warga dusun Kali Adem yang tak mau disebut namanya mengutarakan “ Kulo nganthek sak niki tetep mboten wani pados pasir mas, ajrih nek sewektu-wektu dijaluk jik kagungan / Danyange ( Saya sampai sekarang tetap tak berani cari pasir mas, takut sewaktu-waktu diminta yang punya / Kyai Sapu Jagad (danyange) ), di samping banyak juga warga yang berani jual pasir dari sungai,
-Kejadian terseretnya seorang warga Desa Argomulyo di aliran banjir Sungai Opak 2012, warga tersebut tidak meninggal, menurut sebagian besar warga berkeyakinan bahwa dia tidak meninggal karena diselamatkan “ Jik mbau rekso Opak “,
-Dan kasus-kasus, cerita-cerita lain, yang kadang tidak masuk akal secara ilmiah, namun tetap dipegang dan diyakini oleh sebagian warga masyarakat.IMG_4726
Tiap daerah punya ciri kas kultur tersendiri, yang penting kususnya warga masyarakat Lereng Merapi tetap selalu waspada dan tanggap terhadap aktifitas Gunung, sehingga toh apabila meletus, resiko dapat diminimalisir bahkan dapat dihindarkan.

BERKAH DIBALIK BENCANA BANJIR SUNGAI OPAK 2011-2012

Banjir sungai Opak 2011-2012 cukup besar, masuk Pemukiman dan menerjang Persawahan Penduduk, awal 2015 menjadi berkah bagi pemilik sawah.

ARGOMULYO – CANGKRINGAN. Sungai Opak yang melintas di Desa Argomulyo tahun 2011-2012 terjadi banjir yang cukup besar, hingga masuk Pemukiman Penduduk dan merusak lahan Persawahan, sehingga dirasakan sebagai musibah bagi warga. Di awal 2015 ini sawah yang tertimbun pasir menjadikan berkah bagi pemiliknya, berkat penjualan pasir.
Seiring dengan menipisnya keberadaan material pasir yang ada di Desa Argomulyo kususnya di sungai Gendol dan Opak, mengakibatkan material yang di atas lahan persawahan mulai laku terjual, hal tersebut menjadikan yang dulunya musibah berbalik menjadi berkah.
Lahan Persawahan tersebut meliputi:
1.Sawah milik Bp Suparto, yang terletak di timur dusun Kebur, Argomuyo, Cangkringan,
2.Sawah Bp Surojo, posisi di Timur laut dusun Kebur Lor,
3.Persawahan kepunyaan Bp Pairo Rajiman, terletak di Utara Balai Benih Ikan Cangkringan,
4.Sawah milik BP Rapingu, yang terletak di timur dusun Teplok, Argomulyo,
5.Persawahan Pak Budi terletak di timur dusun Kebur Kidul, Argomulyo,
6.Milik Bp Gito, di timiur dusun Teplok,
7.Sawah milik Bp Mbadi, di timur dusun Kliwang, Argomulyo,
8.Milik Pak Biyadi, posisi di timur dusun Kliwang,
9.Sawah milik Pak Mento, terletak di timur dusun Panggung, Argomulyo,
10.Milik Bp Cipto Surip, posisi di timur dusun Panggung,
11.Sawah milik Pak Sapto, di timur dusun Kebur,
12.Persawahan milik Bp Sumarsum, terletak di timur laut Kebur Lor,
13.Sawah milik Pak Mujiran, di timur dusun Kebur Lor,
14.Sawah milik Pak Parto, terletak di timur dusun Teplok,
15.Persawahan milik Bp Rohmat, tempat timur dusun Teplok, Argomulyo.
IMG_9365
Salah seorang pemilik sawah yang tak mau disebut identitasnya, mengatakan “ Nek 2011 sengsoro mas musibah, ning sak iki Alhamdulillah wedine payu banget ( Kalau 2011 sengsara mas musibah, tetapi sekarang Alhamdulillah material pasir laku keras } “.
Timbunan pasir bervariasi, ada yang dengan kedalaman 4 M, ada yang 2 M, dll, rata-rata perhari pasir diambil 7 sampai 12 rit ( Colt L 300 Bak Terbuka ), harga per armada Rp 70.000,-, menurut Pak Parto, pemilik sawah tertimbun pasir di timur dusun Teplok “ Pasir di sini bagus mas, hampir tanpa batu dan tidak banyak campur dengan tanah, makanya banyak yang suka sehingga selalu ambil/beli di sini, Alhamdulillah ternyata banjir yang dulunya kami rasakan sebagai musibah, sekarang merupakan berkah ”

DUSUN GAYAM, ARGOMULYO, CANGKRINGAN PENERIMA BANTUAN SEPERANGKAT GAMELAN DARI BPBD PENTAS DI SLEMAN

Giat berlatih Seni Karawitan, difasilitasi BPBD Sleman, tampil di Sleman.

ARGOMULYO – CANGKRINGAN. Dusun Gayam Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, salah satu diantara penerima bantuan seperangkat Gamelan dari BPBD, aktif berlatih, dan tanggal 6 Juni 2015 tampil pentas di Gedung Kesenian Kabupaten Sleman.
Hampir 5 tahun Erupsi Merapi berlalu, banyak peristiwa-peristiwa, kejadian dan kenangan pahit yang dialami warga Cangkringan. Kurun waktu beberapa tahun hampir semua sendi kehidupan terganggu bahkan ada yang aktifitasnya lumpuh, baik ekonomi, pendidikan, perdagangan, pertanian, dll juga termasuk giat seni budaya.
Kecamatan Cangkringan kaya akan budaya tradisional, diantaranya seni Jatilan, Ketoprak, Mocopat, Campur sari, Srandul, Tari-tarian, Merti Dusun, Labuhan Merapi, Gejok Lesung, Dagelan, Wayang Kulit, Wayang Orang, Kosidah, Bend, Seni Hadroh, Seni Karawitan, dll.
Kejadian Erupsi 2010 menyebabkan giat seni hampir semuanya berhenti, baik latihan rutin maupun pentas, diantaranya seni Karawitan. Selain karena beberapa perangkat seni rusak bahkan habis tersapu lahar panas Merapi, juga karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan. Salah satunya adalah giat seni di dusun Gayam Desa Argomulyo Cangkringan, beberapa jenis seni budaya ada di sini, namun karena beberapa hal sampai 2013 giat seni macet.
Pertengahan 2013 dusun tersebut mendapat bantuan seperengkat Gamelan Jawa 2 Pangkon ( pelok dan slendro ), setelah itu mulailah giat seni hidup kembali. Dibentuklah Paguyuban Seni Karawitan dengan nama “ Grup Karawitan Mudha Laras “, beranggotakan 90 % generasi muda dusun tersebut, dengan Ketua Sayono, dan Penasehat / Pelindung Kades Argomulyo.
Pusat kegiatan di rumah Bp H Ramlan, latihan rutin setiap malam Minggu , dengan Pelatih Bp Sudarno, giat pentas sudah dilakukan dibeberapa tempat dengan acara yang berbeda, dianataranya pentas di dusun Kali Rase Medari, Pentas di Balai Argo, hajatan mantu , dan tanggal 6 Juni 2015 tampil Pentas di Gedung Kesenian Kabupaten Sleman.
Dijumpai di tempat latihan, warga dusun Gayam menghaturkan banyak terima kasih kepada Bp-bp dan Ibu-ibu di BPBD Sleman atas bantuan seperangkat Gamelan, sehingga menjadikan warga tambah semangat untuk bangkit kembali setelah Erupsi yang lalu,mohon doanya semoga kusunya giat seni di Cangkringan cepat pulih kembali, Amin.

KEMBALI KOMUNITAS RELAWAN SKSB CANGKINGAN KEHILANGAN SALAH SATU ANGGOTANYA

CANGKRINGAN. Pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, SKSB Cangkringan kehilangan salah satu anggotanya, meninggal dunia karena sakit.
SKSB merupakan salah satu diantara Komunitas Relawan yang bergerak di bidang kebencanaaan di Kecamatan Cangkringan, kususnya Pantauan Cuaca, Lahar Hujan, Aktifitas Gunung Merapi. Saat ini anggota yang terdaftar di BPBD Sleman sekitar 40 orang ( yang aktif ), dengan klaster / kemampuan / skill yang berbeda-beda.
Salah satu anggotanya yakni Tumarno nama udara Pak Tekong, alamat Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman dengan No Induk Organisasi A06.07.106, meninggal dunia karena sakit. Meninggal pada hari Rabu 22 April 2015 di RS Panti Rapih jam 02.00, Pemakaman dilakukan pada hari Kamis 23 April 2015 di Makam Dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.
Dari RS Panti Rapih Pak Tekong dinyatakan infeksi Paru-paru akut dan adanya cairan disekitar organ tersebut, selama 2 Minggu dirawat di rumahnya yakni di Huntap Batur, Kepuharjo, Cangkringan kemudian hari Senin tanggal 20 April 2015 dibawa ke Rumah Sakit hingga akirnya Rabu malam meninggal dunia.
Pak Tekong adalah salah satu anggota Relawan SKSB yang Gigih, Tanpa mengenal lelah, Pemberani, Tangguh, Supel. Beliau salah satu pemberi informasi baik cuaca maupun Lahar Hujan / Pemantau Lahar Hujan di Bantaran Sungai Gendol, tepatnya di Pos 1 Kopeng bersama Mbah KM, disamping memantau di Penyeberangan Kopeng – Srunen. Apabila di daerah lain kususnya di bawah ada angin puting beliung, pohon tumbang, tanah longsor dsb, beliau tak kenal waktu, tak kenal lelah turun ikut membantu bergotong royong.
Namun sayangnya, rupanya paska erupsi 2010 ketika bertugas memantau di pinggir sungai Gendol ketika ada aliran / banjir, kebanyakan tidak memakai alat pelindung pernapasan / masker, padahal folume asap masih tinggi waktu itu ketika ada aliran ( asap menurut info mengandung zat yang berbahaya ). Ditambah lagi aktifitas kesehariannya dekat dengan Penambangan material Merapi dengan alat Berat ( folume asap / bleduk / kebul tinggi ), menurut beberapa teman anggota SKSB yang tidak mau disebut namanya memprediksikan “ Kemungkinan sakitnya Pak Tekong yang paru-paru itu, berawal dari polusi asap, abu, bleduk, baik dari aliran banjir kali Gendol maupun aktifitas Penambangan yang ketika itu masih banyak mengeluarkan asap / bleduk , sedang tidak pakai masker ”.
Menurut Ketua SKSB Supri yadi “ Kabar meninggalnya Pak Tekong sangat mengejutkan dan mengagetkan, dan merasa sangat kehilangan sosok yang dapat diandalkan, namun karena sudah suratan Takdir, maka ya kita iklaskan, semoga meninggalnya husnul khotimah, diampuni segala dosa-dosanya, diterima segala amalnya, dan ditempatkan pada tempat yang aman dan nyaman di SisiNya, Amin “.
Doa dan harapan juga disampaikan Ketua Pelaksana BPBD Sleman Pak Yuli, mewakili jajarannya, sekaligus ucapan terima kasih atas peran serta, dan perjuangannya dalam membantu di setiap penangan bencana, kusunya yang terjadi di Kec. Cangkringan.
Selamat Jalan Saudaraku, Semoga Alloh memberikan tempat yang nyaman. Amin.

HUJAN LEBAT DI SLEMAN TIMUR MENGAKIBATKAN BEBERAPA KEJADIAN

Hujan lebat durasi diatas satu jam, banyak kejadian diantarana pohon tumbang, kolam jebol, petir menyambar listrik dll.
SLEMAN TIMUR – CANGKRINGAN. Hujan dengan kapasitas sedang sampai di atas sedang dengan durasi di atas 1 jam terjadi di Sleman, kususnya Sleman Timur. Hujan terjadi Hari Rabu 22 April 2015 dari jam 17.00 sampai 19.00 WIB, mengakibatkan beberapa kejadian baik pohon tumbang, talut roboh, sungai-sungai kecil meluap dll.
Kembali terjadi cuaca ekstrim kususnya di Sleman Timur dan Utara, yakni hujan lebat disertai Petir dan angin kencang, hingga dibeberapa daerah terjadi beberapa kejadian yang mengakibatkan kerusakan, diantaranya:
1.Sungai sekitar Koramil Cangkringan meluap ke jalan raya sehingga jalan alternatif Magelang – Prambanan terganggu , banyak batu kerikil,
2.Terjadi pohon tumbang di dusun Bayen, Tegalsari, Kalimati Kecamatan Kalasan,
3.Kolam ikan milik Bp Untung Slamet Argomulyo dadal karena air sungai meluap, mengakibatkan kerugian ikan terbawa arus,
4.Jembatan Poles yang menghubungkan Pakem – Turi terputus, karena tergerus aliran sungai lokal,
5.Terjadi pohon tumbang melintang di jalan Pakem – Cangkringan, tepatnya selatan Dusun Keten, Wukirsari, Cangkringan,
6.Air masuk Rumah Warga di Pakem,
7.Petir menyambar listirk, beberapa rumah warga Dusun Jaranan, Argomulyo, Cangkringan listrik menjadi padam, beruntung tidak ada kurban,
8.Rumah milik Bp Heru, dusun Karanglo, Argomulyo, Cangkringan kemasukan air karena sungai lokal meluap,
9.Dan yang lainya, dimana berita ini ditulis masih dalam pendataan.
Beberapa pohon tumbang tetap dikondisikan di gelapnya malam oleh SAR BPBD Sleman dibantu beberapa Komunitas setempat. Curah hujan intensitas sedang hingga di atas sedang tidak terjadi di puncak Merapi sehingga sungai Gendol, Opak maupun Kuning tidak terjadi aliran yang membahayakan pemukiman warga

GLADI LAPANG DAN PENGUKUHAN DESA TANGGUH BENCANA (DESTANA) HARGOBINANGUN

Sleman, Pengukuhan Desa Tangguh Bencana  (DESTANA) Hargobinangun Pakem dilakukan di Barak Pandanpuro Hargobinangun oleh Bapak Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSi pada kamis, 9 April 2015 dan sekaligus peresmian Sekolah Siaga Bencana (SSB) SD N Kiyaran I Cangkringan, SD N Umbulharjo dan SMP  N I Cangkringan.

Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU oleh pemerintah Desa Hargobinangun dengan RS Grasia, Kampus UII dan PPG Kesenian untuk bekerjasama dalam penanganan pengungsian apabila sewaktu-waktu terjadi gelombang pengungsian.

Acara yang diadakan oleh BPBD Propinsi Yogyakarta dan BPBD Kab. Sleman dilanjutkan dengan gladi lapang yang diikuti oleh 210 undangan terdiri dari 12 Dusun dan 3 daerah persiapan, yang melibatkan unsur TNI/Polri, FPRB Pakem, PMI, Tagana, SAR dan komunitas setempat.

bupati