CERAMAH ROMADHON DISISIPI DENGAN MATERI PENINGKATAN KEWASPADAAN / MITIGASI BENCANA

CANGKRINGAN – Banyak media untuk meningkatkan kewaspadaan, menumbuhkan kembali semangat kesadaran adanya bencana, diantaranya adalah ceramah-ceramah Romadhon dengan disisipi materi Mitigasi Bencana.
Kususnya di Kecamatan Cangkringan, mayoritas penduduknya beragama Islam, yang dalam Bulan Romadhon ini disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Diantaranya adalah Pengajian-pengajian, Ceramah, Kajian, Kultum, Kuliah Subuh, Tarling dari Lembaga, Ormas, atau dari Pejabat Pemerintah.
Efektif dan strategis apabila media tersebut dimanfaatkan untuk mitigasi, walau sekedar isian sisipan tentang himbauan atau informasi-informasi tentang perkembangan situasi, misal status Merapi, apa yang harus dipersiapkan, dll.
Terlebih di kegiatan Safari Tarawih Keliling, yang dilakukan oleh Pejabat, dari tingkat Desa sampai Kabupaten. Tentunya banyak warga yang berkumpul di situ, sehingga tepat dan tidak salah bila sambutan ataupun isian pengajian, di sisipi dengan himbauan peningkatan kewaspadaan. Seperti Safari Tarling KOKAM Muhammadiyah Cangkringan di Masjid Muqorrobin Argomulyo, selain siraman rohani, juga dilengkapi dengan himbauan agar warga tetap waspada, dan tidak terlena terhadap situasi Merapi, terlebih bila ada peningkatan aktifitas.

GUDANG BARANG BEKAS TERBAKAR

Senin tanggal 22 juni 2015  sekitar jam 16.30 wib terjadi kebakaran gudang barang bekas dan penyimpanan kain sisa /perca kain milik bapak Fajar wahyono (43) tahun dusun ngepas donoharjo ngaglik sleman .Kronologi kejadian sore itu pemilik gudang membakar sampah sampah yang sudah tidak terpake di depan gudang lalu di  tinggal pergi .karena hembusan angin yang lumayan besar di  sore  itu ,api semakin berkobar tanpa di sangka merembet ke gudang dan api meyambar isi gudang yang isinya barang -barang bekas mudah terbakar.

Salah seorang warga yang melihat kejadian segera minta tolong kewarga yang lain untuk berusaha memadamkan api yang semakin membesar,tak lama kemudian pemadam kebakaran sleman datang ke tkp setelah mendapat laporan dari warga .Tim pemadam kebakaran sleman  segera melakukan proses pemadaman api dengan di bantu pemadam dari kota yogyakarta ,Trc sleman ,komunitas ,serta warga setempat .

Proses pemadaman api   hingga pukul 20.30 wib api baru selesai di padamkan .Menurut pemilik gudang kerugian dalam kejadian ini sekitar 60-90juta Dan  tidak ada korban jiwa karena sewaktu kejadian gudang dalam keadaan kosong.sampe berita ini di turunkan masih di lakukan pembersihan puing-puing sisa kebakaran oleh pemilik gudang.

PENDEKATAN MITIGASI BENCANA SECARA RELIGIUS

Bencana terjadi bisa karena faktor alam, maupun ulah manusia, namun bagi umat beragama ada keyakinan yang menyatakan, bahwa bencana terjadi karena KehendakNYA yakni Alloh Tuhan Yang Maha Esa.
Faktor alam,misalnya bencana terjadi karena keluarnya magma yang berlebih lewat kawah gunung, angin kencang yang membuat kerusakan, tumbukan lempeng makma yang menjadikan gempa, dsb.
Karena ulah manusia, terjadinya banjir bandang karena hutan gundul akibat ekploitasi yang berlebihan, Putusnya mata air di hilir, karena penambangan material di hulu yang tidak terkendali, Banjir masuk ke pemukiman, karena tanggul rusak akibat ulah para penambang material, dll.
Faktor Riligius, bencana terjadi karena memang kehendak Sang Pencipta yakni Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam salah satu agama diyakini bahwa bencana terjadi, sebagai peringatan bagi manusia, atau cobaan, bahkan bisa sebagai adzab, karena kesalahan yang manusia kerjakan. Seperti tertulis dalam ayat di salah satu agama, “ Apabila Penduduk dalam suatu daerah beriman dan bertaqwa dengan sungguh-sungguh, maka Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan barokahNYA dari Langit dan Bumi. Tetapi bila penduduknya kufur tidak mensukuri nikmatNYA, maka AdzabNYA sangat pedih “.
Maka kiranya sangatlah bijak dan lengkap, apabila Miigasi Bencana dilakukan menyeluruh, yakni Mitigasi secara Ilmiah, misal dengan Pelatihan- pelaihan, Simulasi, Pembuatan Kontijensi, dll, dan Mitigasi dengan Pendekatan Religius, Agama, misal seruan hidup dengan pengamalan agama yang sungguh-sungguh, aklaqul karimah, moral yang baik, hindari maksiat, hindari korupsi, hindari judi, dll.

BENCANA KEKERINGAN VERSUS PELESTARIAN LINGKUNGAN

Musim kemarau kali ini rasanya baru beberapa hari, tetapi hawa semakin hari semakin panas saja, dan panas rata-rata di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta bisa mencapai 33 – 35 C atau bahkan mungkin bisa lebih. Kekhawatiran kekeringan tidak saja dialami oleh masyarakat di daerah yang sering mengalami bencana kekeringan seperti daerah Prambanan, tetapi juga dikawasan yang dulunya kaya dengan sumber air seperti Cangkringan dan Pakem yang dikenal sebagai daerah tangkapan air (cathment area). Tentu saja kekeringan bukan karena tanpa sebab. Salah satu penyebabnya adalah ketika erupsi Merapi 2010 masih menyisakan air yang terserap di kawasan asabuk hijau di lereng Merapi masih belum maksimal karena kerusakan tanaman hutan lindung belum sepenuhnya pulih. Dampak penambangan galian golongan C yang semakin membabi buta tanpa terkendali dan beralih ke ladang atau kebun- kebun milik penduduk yang turut berkontribusi makin parahnya kerusakan lahan hijau dan larinya sumber air. Semakin menyempitnya lahan, karena kawasan yang menjadi kawasan tangkapan hujan terjadi peralihan peruntukan lahan menjadi lahan hunian. Sementara gerakan penghijauan belum sejalan dengan laju pembangunan lahan hudian yang jauh lebih cepat. Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) yang kurang jelas dan tidak diketahui oleh masyarakat atau sebaliknya masyarakat kadang tidak mau tahu dengan kondiri lahan yang dipakainya. Penertiban kawasan hijau yang belum berjalan dengan semestinya, tentu perlu menjadi perhatian khusus agar arah pembangunan yang berwawasan lingkungan bukan hanya sebagai pemanis atau pemoles dari kebijakan yang diambil. Solusi terbaik adalah bagaimana masyarakat tergugah bahwa kewajiban menghijaukan lahan bukan hanya milik pemerintah tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama bagi masa depan anak cucu dan bukan kepentingan sesaat. Penajaman masalah peraturan penambangan galian golongan C di lahan lahan milik penduduk, dan dikawasan lahan milik negara harus semakin tegas dan jelas. Memperbanyak pembangunan embung – embung untuk menampung air hujan sebagai cadangan ketersediaan air. Pemberian penghargaan kepada warga masyarakat yang berkontribusi melestarikan sumber-sumber air baik untuk instansi, kelompok, dan perorangan. Pemberian sanksi hukum yang tegas dan berat kepada mereka yang merusak lingkungan baik secara langsung dan tidak langsung sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi kita yang berkehendak baik untuk menjaga kelestarian alam yang berlanjut pada semakin berkurangnya bencana kekeringan yang bisa mengancam kita.

PELATIHAN TRC BPBD SLEMAN MENUJU PROFESIONAL

BPBD Sleman dalam rangka meningkatkan Pengetahuan dan Kemampuan TRC mengadakan pelatihan di Boyong Kalegan Resto Jl Pakem-Turi Purwobinangun Pakem.

Acara yg dilaksanakan selama 3 hari tsb dimulai dari hari Kamis 11-06-2015 s/d sabtu 13-06-2015 dibuka oleh Bp Kalak BPBD Sleman. Dikesempatan  itu Bp Julisetiono Dwi Wasito .SH.MM selaku Kalak  BPBD Sleman memberikan pengarahan dan mempunyai harapan ke depan dgn adanya pelatihan ini TRC Sleman menjadi  lebih profesional dalam menjalankan tugasnya.

Untuk mewujudkan TRC Sleman menjadi unit ops yg Profesional  BPBD Sleman membekali dgn materi antara lain sbb;

Sistem Komando  Tanggap  Darurat   nara sumber Bp H.Julisetiono Dwi Wasito. SH.MM. Tugas Pokok TRC  oleh  Bp Makwan. STp.MT.  Informasi Darurat oleh Bp Danang Samsu. ST. Kaji Cepat oleh Bp Nawa Murtiyanto.STP. MPA . Identifikasi korban oleh Bp Anang Suyoto.A.Md.Kep.  GIS dan GPS oleh Bp Joko Lelono. ST. MT. Dokumentasi foto dan video oleh  Bp Anang Setiyoaji. Pengkajian kerusakan SarPras oleh Bp Saiful Bachri ST. MT.

Setelah selesai pemberian materi di lanjutkan dgn simulasi di hari terakhir serta evaluasi hasil pelatihan oleh Bp Kalak BPBD Sleman. Acara pelatihan berjalan lancar dan ditutup oleh Bp Kalak Bp Kalak BPBD Sleman.

 

 

PELATIHAN PENGELOLAAN BARAK PENGUNGSIAN TIRTOMARTANI, KALASAN

Pelatihan Pengelolaan Barak Pengungsi dilaksanakan BPBD Kabupaten Sleman pada hari selasa sampai dengan hari Rabu tanggal 9-10 juni 2015 untuk Desa Tirtomartani Kecamatan Kalasan, melibatkan beberapa unsur masyarakat dan Dinas terkait.

Pelatihan diikuti 50 peserta meliputi, Perangkat Desa, Karangtaruna, Pekerja sosial, PKK dan Tokoh Masyarakat. Selama dua hari peserta mendapatkan beberapa materi, sebagai berikut:

  1. Kebijakan Pemerihtah Dalam Penanganan Bencana dan Menejemen Posko, di sampaikan oleh BPBD Sleman.
  2. PPGD, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.
  3. Pengamanan Jalur Evakuasi dan Keamanan Barak, oleh Polres Sleman.
  4. Pengelolaan Air Bersih,disampaikan oleh PMI Sleman.

Setelah semua materi di sampaikan, dilanjutkan dengan praktek lapangan / simulasi, dari 50 peserta di kelompokan menjadi beberapa Tim: Tim Kesehatan, Tim Pengungsi, Tim Dapur Umum, Tim Keamanan, dan Tim Pengelola Barak. (admin14)

APA KATA MEREKA TENTANG BENCANA ALAM

Masih segar di benak anak anak sekolah dari berbagai jenjang yang mengikuti fun and games bersama BNPB RI yang dihadiri Oleh Bu Eny Supartini dan Deputy BNPB, Kepala Pelaksana BPBD Sleman Pak Yuli Setiyono serta secara kebetulan dari LIPI ikut menyaksikan kegiatan tersebut,di museum dan Galery (Musega) Prof Sarwidi di Kaliurang pada tanggal 28 Mei yang lalu. Awalnya, anak tidak tahu kehadirannya akan diajak untuk apa dan ada apa dengan museum gempa yang sebelumnya memang sama sekali belum pernah dilihatnya. Tim relawan dari BNPB kemudian mengajak anak anak untuk berbaur dengan teman- teman yang berbeda dari berbagai jenjang mulai dari SD, SMP, SMA, dan SMK berbaur membuat kelompok serta mendapatkan bendera regu sesuai dengan jenis bencana. Semua regu atau tim diminta untuk membuat yel-yel andalannnya masing masing dan dalam permainan yang sangat edukatif tersebut, anak diminta untuk menjawab pertanyaan berdasarkan tema dan nama regunya masing masing, mengenali secara cepat serta mendiskusikannya dalam tim tentang bagaimana menghadapi bencana dan mengambil sikap yang cepat dan tepat untuk mengurangi korban akibat bencana. Mereka adalah 5 siswa mewakili sekolahnya masing masing didampingi oleh seorang guru. Dari Berbah diwakili oleh SD Negeri Tanjungtirto 1 dan SMK Nasional Berbah,  SMK Bina Tama Mlati, dari kecamatan Ngaglik diwakili oleh Jogja Montesorri School (JMS), dan SD Negeri Selomulyo (shelter school). Kecamatan Cangkringan diwakili oleh  Sekolah Siaga Bencana (SSB) antara lain SD Umbulharjo 2, SD Kepuharjo,  SMP Negeri 2 Cangkringan, dan  SMK Muhammadiyah Cangkringan. Semua kegiatan dikemas dalam bentuk game yang bernuansa pengetahuan mitigasi termasuk pengetahuan PPGD dan pertolongan pertama dari tim PMI Sleman yang diikuti dengan senang hati. Diakhir acara semua peserta dan pendamping diajak untuk mengenal asal muasal gempa, dan mengapa gempa bisa terjadi yang dijelaskan dengan lugas dan jelas menggunakan alat yang diciptakan sendiri oleh Prof. Sarwidi, MSCE, PhD dilanjutkan dengan pemutaran film tentang gempa bumi dan akibatnya. Peserta kemudian diminta membuat paparan sesuai dengan tema yang mereka terima, dilanjutkan dengan tanya jawab. Kesan mereka ternyata luar biasa karena pengetahuan yang mereka dapatkan dihari itu tidak didapatkan di sekolah. Salah satu siswa bahkan ada yang menuliskan kesannya dengan sederhana tapi penuh arti yaitu dari SD Montesorri dengan menuliskan : Awesome… semoga edukasi mengenai kebencanaan semakin dikenal oleh anak-anak dan di sekolah mereka melalui pendidikan.

PENTINGNYA TIM DUSUN TANGGAP BENCANA ( DUSTANA )

Mitigasi berbasis masyarakat tepat, tiap Dusun penting dibentuk Tim Tanggap Bencana, Kusus di Cangkringan belum semuanya.

CANGKRINGAN – SLEMAN. Desa – desa di Kecamatan Cangkringan sudah dilatih untuk menjadi Desa Tangguh/Tanggap Bencana “DESTANA”, di dalamnya ada Tim / Pengurus, Kontigensi / SOP. Pengurangan Resiko Bencana akan idial lagi, kalau semua Dusun-dusun terdampak secara efektif juga dibuat Tim. Kusus di Kecamatan Cangkringan, belum semua dusun terdampak mempunyai Tim DTB / SOP.
Dengan adanya Tim Tangguh Bencana Dusun, bila datang bencana, warga dusun akan secara cepat melakukan penyelamatan diri sendiri, sebelum bantuan dari luar datang. Sehingga dengan kecepatan, ketepatan mereka, Korban dimungkinkan dapat dihindari.
Tim Dusun Tanggap / Tangguh Bencana, minimal berisi hal-hal sebagai berikut:
1.Pengurus DTB, paling tidak ada:
-Pelindung / Penasehat,
-Ketua,
-Sekretaris,
-Bendahara,
-Seksi Transportasi,
-Seksi Evakuasi,
-Seksi komunikasi,
-Seksi Kesehatan,
-Seksi Dapur Umum.
2.Data Penduduk, meliputi:
-Jumlah laki dan wanita,
-Jumlah Lansia, Balita, Difabel dan kelompok rentan lainnya.
3.Data Alat Transportasi, meliputi:
-Jumlah Sepeda Motor,
-Jumlah Mobil,
-Jumlah Truk.
4.Data Hewan Ternak warga.
5.Peta Dusun, menggambarkan letak rumah dan penguninya.
6.Ada SOP, sebagai acuan kapan harus lari mengungsi, siapa melakukan apa, menuju ke tempat mana, apa yang harus dibawa, dsb.
Harapannya semoga Dusun-dusun terdampak bencana, kususnya Bencana Merapi, yang belum terbentuk Tim DTB, semoga lekas terbentuk. Namun di lapangan sampai sekarang belum terpantau untuk hal itu, semoga Lembaga-lembaga terkait secepatnya mendorong dan membentuk.(smoga)

AIR KERUH, KOTOR, UNTUK KEBUTUHAN SEHARI-HARI BAGAIMANA PENJERNIHANNYA SECARA SEDERHANA?

Air merupakan kebutuhan pokok manusia, namun di tempat dan kondisi tertentu kadang air keruh, kotor, sehingga tidak layak dikonsumsi. Bagaimana solusinya agar hal tersebut dapat teratasi?.
Kondisi air keruh, kotor bisa terjadi di tempat yang mata airnya berwarna kuning, di tempat-tempat pengungsian ( minimnya ketersediaan air ), namun hal tsb dapat diatasi dengan beberapa cara yang sangat sederhana, yakni:
1.Teknis Saringan Kapas, alat yang dipakai adalah kapas, lapisan kain kasa, atau lapisan saringan untuk aquarium. Alat tersebut ditumpuk berlapis, kemudian air keruh disaring.
2.Teknis Saringan Pasir Kerikil, alatnya meliputi pasir halus, kerikil kecil, kerikil sedang dan kerikil besar. Cara Pengoprasiannya, ruangan Drum paling atas untuk air keruh, lapisan di bawahnya berisi Pasir halus, kemudian Kerikil Kecil, di bawahnya kemudian Kerikil Sedang , terakir lapisan Kerikil Besar, dan lapisan paling bawah dibuat lubang untuk keluar air hasil penyaringan.
3.Teknis Ijuk, alat-alatnya meliputi Ijuk,pasir halus, kerikil, arang tempurung kelapa,batu. Caranya adalah, Drum ruang atas untuk air limbah, kemudian di bawahnya untuk ijuk tebal 15 cm, lalu dibawahnya pasir halus tebal 15 cm, kemudian ijuk dengan ketebalan 20 cm, di bawahnya kembali tumpukan pasir halus 20 cm, di bawahnya baru tumpukan arang tempurung kelapa tebal 15 cm, kemudian kerikil dengan ketebalan 10 cm dan ruang paling bawah tumpukan batu tebal 10 cm, dan di lapisan paling bawah dilubangi untuk keluar air hasil penyaringan.

MENGENAL LEBIH DEKAT PUSDALOPS SLEMAN bag 1

PUSDALOPS Per Januari 2015 Pusdalops Sleman mulai di uji coba dioperasikan, setelah selesainya pembangunan fisik maupun peralatan. Seiring perkembangan dan mengacu pada Peraturan BNPB No 15 Tahun 2012 yang mengatur tentang Pusdalops, maka mulai bulan April 2015 secara resmi BPBD Sleman mengangkat 8 orang sebagai operator yang nantinya akan piket 24 jam dibagi dalam 3 shift.
Pusdalops Sleman terletak di Gedung Posko Utama di Jalan Kaliurang Km.17 Lantai 2 sayap selatan terdiri dari tiga ruang, Rupusdalops sebagai ruang operator, ruang manajer Pusdalops, serta ruang rapat yang kesemuanya dilengkapi dengan fasilitas multimedia.
Pada Rupusdalops dilengkapi dengan server di ruang server,satu unit monitor 90 inch untuk display system terkait, enam unit PC layar sentuh, telpon, jaringan internet, SSB untuk komunikasi frekwensi dengan Posko BNPB dan BPBD kabupaten /kota se Indonesia dan RIG untuk komunikasi lokal.
Seiring ketugasan dari operator Pusdalops beberapa system yagn terdapat di ruang Pusdalops lama/lantai bawah di pindah ke Rupusdalops yaitu monitor Merapi Telemetry System, seismik analog, dan VoIp telpon untuk komunikasi antar ruang dan komunikasi ke BPBD penyangga Merapi yaitu BPBD Klaten, Magelang, Balai Sabo dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO)
Semua peralatan yang ada di Pusdalops Sleman sudah bisa difungsikan dengan baik, fasilitas penunjang yang cukup representatif di gedung PoskoUtama diharapkan mampu meningkatkan kinerja pegawai maupun operator agar terus bisa meng explore diri/SDM seiring perkembangan teknologi di bidang kebencanaan dan teknologi komunikasi.
Pusdalops Sleman juga secara rutin menjalin komunikasi dengan instansi teknis terkait seperti BPPTKG dan BMKG untuk meminta informasi dan data lama terkini karena data tersebut sangat penting sebagai data record di Pusdalops yang dapat digunakan sebagai data acuan mitigasi bencana.
Seperti BMKG telah memberikan link dimana operator dapat membaca realtime dan meng import data tersimpan atau diesuaikan pada saat bencana klimatologi terjadi sebagai bahan studi kebencanaan. Secara kebetulan sistem tersebut terpasang di area Posko Utama selama beberapa tahun.
Diharapkan semua informasi dan data yang dihimpun dan di olah di Pusdalops Sleman dapat membantu dalam mengambil keputusan maupun kebijaksanaan (policy) bagi para pimpinan pemangku kebencanaan di Kabupaten Sleman. (den)