Belajar di pengungsian tetap semangat

SD Tarakanita Tritis terletak di Tritis, Purwobinangun, Pakem, Sleman yang termasuk dalam KRB III. Sejak tanggal 24 Oktober 2010, para siswa bersama keluarga telah mengungsi karena status Gunung Merapi “AWAS”. Para siswa mengungsi di Barak pengungsian Purwobinangun, Girikerto, dan sebagian mengungsi di kerabat mereka. Selama di pengungsian mereka tetap belajar dengan dibimbing oleh guru-guru dari SD Tarakanita Tritis meskipun memang ada keterbatasan dan kendala. Namun guru-guru telah mempersiapkan peralatan serta buku yang diperlukan dalam belajar. Namun guru-guru SD Tarakanita Tritis tetap berusaha mengajar dengan sebaik mungkin. Bahkan setiap pagi guru-guru bersama penduduk setempat menyiapkan sarapan bagi anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat belajar dengan baik jika perut mereka tidak kosong, karena sebagian siswa ternyata belum sarapan di barak pengungsian. Bahan untuk penyediaan sarapan ini berasal dari pihak-pihak yang membantu di antaranya Posko Somohitan, Yayasa

Ditulis oleh murdi
Selasa, 28 Juni 2011 10:58

n Tarakanita, RS Panti

Munculnya Gerakan Penyadaran dalam Penanggulangan Bencana

Tulisan ini muncul terinspirasi dari timbulnya bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta yang datang silih berganti, baik saat tahun 1994 gunung Merapi di kala itu meletus dan menewaskan beberapa warga dusun Turgo, dan sekitarnya khususnya kawasan desa Purwobinangun dan Hargobinangun Pakem maupun saat erupsi tahun 2010 lalu.

Letusan tahun 1994 masyarakat masih enggan mengungsi untuk menjauh dari bahaya erupsi, karena terpengaruh mitos yang turun temurun diyakini oleh masyarakat setempat bilamana belum  didapati hewan belum turun, Merapi masih dianggap aman.  Terlebih lagi bila seorang juru kunci yang kala itu dijabat oleh Bekel Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan Mbah Maridjan (alm) belum memberikan sinyal untuk menjauh dari lereng Merapi.

Bahaya erupsi, gempa, tanah longsor, dan angin puting beliung akhirnya memjadi penanda bagi manusia agar merekapun bisa bersahabat dan tanggap terhadap apa yang bisa terjadi sewaktu-waktu muncul dari reaksi alam itu sendiri, dan dari kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Diawali dengan adanya erupsi Merapi 2006 yang memakan korban jiwa dua relawan yang tewas di dalam bunker dusun Kaliadem, disusul dengan adanya gempa dahyat di selatan kota Yogyakarta Khususnya Bantul, Berbah, Prambanan, dan sekitarnya yang menelan korban tidak sedikit dan empat tahun kemudian disusul dengan bencana erupsi Merapi tahun 2010 yang meluluh lantakkan daerah Cangkringan, Klaten,Magelang dan sekitarnya.

Korban jiwa dan kerugian material yang luar biasa mendorong gerakan sadar bencana di kalangan masyarakat dan menghidupkan gerakan persaudaraan yang luar biasa. Melalui gerakan relawan inilah kita mulai memandang betapa penting masalah tanggap bencana perlu di ditanamkan kepada semua lapisan masyarakat.

Di Lereng Merapi muncul Tagana, di Berbah ada Forum Guru Peduli Bencana dan Jogja Rescue.  Kemudian ada POS PMI di setiap kecamatan, banyak Komunitas SAR yang tumbuh , dan upaya memasukkan bencana alam dalam kurikulum  pendidikan. Ditambah lagi munculnya sekolah siaga bencana yang diprakasai oleh SMK Nasional Berbah yang ditetapkan oleh Bupati Sleman di Tahun 2013.

Munculnya gerakan penyadaran ini sungguh membanggakan bagi pemerintah daerah Kabupaten Sleman. Semoga gerakan penyadaran ini juga terus dapat dipelihara dan didorong . Syukur kalau pendidikan kebencanaan ini juga  diberikan sejak usia dini, Semoga.

Warga Huntap TKD Batur

Warga penghuni Huntap di TKD Batur yang terdiri dari dusun Jambu desa Kopeng dan dusun Batur sudah mulai merasa betah nyaman dan aman tinggal di huntap tersebut, berbagai fasilitas sudah tersedia dan beberapa fasilitas umum yang lain masih terus dikerjakan dengan melibatkan para penghuninya,

Kandang ternak kelompok sapi sudah mereka dapatkan yang merupakan bantuan dari pemerintah melalui dinas Pertanian dan Peternakan, masyarakat mulai hidup kembali sebagai peternak sapi perah. Jalan akses menuju huntap dan jalan lingkungan di huntap sudah 98% terbangun dengan rapi dan mulus untuk dilalui, tinggal menutup selokan selokan yang ada. Sementara untuk bangunan sarana tempat ibadah berupa Masjid telah selesai dibangun dan merupakan sumbangan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Masyarakat, tokoh masyrakat, kepala dusun dan Pemmerintah Desa Kepuharjo bahu membahu dalam menata lingkungan di Huntap dan juga menata kehidupan sosial kemasyarakatan dihuntap yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan yang ditinggalkan.

Bagi warga Jambu yang 99% warganya ikut relokasi di Huntap TKD Batur dalam bebrapa hari terakhir ini sangat merasa kehilangan sosok pemimpin mereka dalam hal ini adalah Bapak Dukuhnya yang dengan kesadarannya telah mengundurkan diri dari jabatan Dukuh Jambu dengan mengirimkan Surat Pengunduran diri kepada Kepala Desa Kepuharjo. Pengunduran diri dukuh tersebut tidak ada kaitan dengan sandungan masalah apapun apalagi tersangkut maslah hukum. Pengunduran dirinya dikarenakan dengan alasan faktor usia dan sudah merasa tidak bisa bekerja secara maksimal, dan seluruh tugas dan kewajibannya sebagai dukuh untuk memimpin masyarakt dusun Jambu sampai dengan bisa mengantarkan warga Jambu sampai bisa menempati Huntapmnya masing -masing dan mulai hidup nyaman dan tenang adalah momentum yang sangat tepat bagi Dukuh Jambu Bpk Sukiran untuk mengundurkan diri, menurut apa yang disampaikan oleh beliau ketika menghaturkan surat pengunduran dirinya. Sedangkan masa jabatan beliau hanyalah tinggal 2tahunl lagi untuk memasuki masa pensiun, namun beliau sendiri sudah merasa untuk segera ingin istirahat dan pensiun.

Warga dusun Jambu merasa keberatan ditinggal pensiun oleh dukuhnya, namun warga juga menyadari bahwa Bpk Sukiran telah lama memimpin dan membimbing warganya dan karena alasan dari beliau sendiri yang sudah lelah dan merasa tidak mampu untuk bekerja seperti dahulu dan saatnya Jambu dipimpin oleh yang lebih muda, kata Bpk Sukiran dalam acara pertemuan  dusun warga dusun Jambu yang dihadiri oleh Kades dan Kabag.Pemerintahan desa Kepuharjo.

 

Ditulis oleh Aries

Sabtu, 02 Maret 2013 13:00

Warga TKD Batur

Warga penghuni Huntap di TKD Batur yang terdiri dari dusun Jambu desa Kopeng dan dusun Batur sudah mulai merasa betah nyaman dan aman tinggal di huntap tersebut, berbagai fasilitas sudah tersedia dan beberapa fasilitas umum yang lain masih terus dikerjakan dengan melibatkan para penghuninya,

Kandang ternak kelompok sapi sudah mereka dapatkan yang merupakan bantuan dari pemerintah melalui dinas Pertanian dan Peternakan, masyarakat mulai hidup kembali sebagai peternak sapi perah. Jalan akses menuju huntap dan jalan lingkungan di huntap sudah 98% terbangun dengan rapi dan mulus untuk dilalui, tinggal menutup selokan selokan yang ada. Sementara untuk bangunan sarana tempat ibadah berupa Masjid telah selesai dibangun dan merupakan sumbangan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Masyarakat, tokoh masyrakat, kepala dusun dan Pemmerintah Desa Kepuharjo bahu membahu dalam menata lingkungan di Huntap dan juga menata kehidupan sosial kemasyarakatan dihuntap yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan yang ditinggalkan.

Bagi warga Jambu yang 99% warganya ikut relokasi di Huntap TKD Batur dalam bebrapa hari terakhir ini sangat merasa kehilangan sosok pemimpin mereka dalam hal ini adalah Bapak Dukuhnya yang dengan kesadarannya telah mengundurkan diri dari jabatan Dukuh Jambu dengan mengirimkan Surat Pengunduran diri kepada Kepala Desa Kepuharjo. Pengunduran diri dukuh tersebut tidak ada kaitan dengan sandungan masalah apapun apalagi tersangkut maslah hukum. Pengunduran dirinya dikarenakan dengan alasan faktor usia dan sudah merasa tidak bisa bekerja secara maksimal, dan seluruh tugas dan kewajibannya sebagai dukuh untuk memimpin masyarakt dusun Jambu sampai dengan bisa mengantarkan warga Jambu sampai bisa menempati Huntapmnya masing -masing dan mulai hidup nyaman dan tenang adalah momentum yang sangat tepat bagi Dukuh Jambu Bpk Sukiran untuk mengundurkan diri, menurut apa yang disampaikan oleh beliau ketika menghaturkan surat pengunduran dirinya. Sedangkan masa jabatan beliau hanyalah tinggal 2tahunl lagi untuk memasuki masa pensiun, namun beliau sendiri sudah merasa untuk segera ingin istirahat dan pensiun.

Warga dusun Jambu merasa keberatan ditinggal pensiun oleh dukuhnya, namun warga juga menyadari bahwa Bpk Sukiran telah lama memimpin dan membimbing warganya dan karena alasan dari beliau sendiri yang sudah lelah dan merasa tidak mampu untuk bekerja seperti dahulu dan saatnya Jambu dipimpin oleh yang lebih muda, kata Bpk Sukiran dalam acara pertemuan  dusun warga dusun Jambu yang dihadiri oleh Kades dan Kabag.Pemerintahan desa Kepuharjo.

Ditulis oleh aries

Sabtu, 02 Maret 2013 13:00

Gempa Bumi Solomon

Gempabumi Solomon berkekuatan 7.5 SR terjadi di Solomon tanggal 13 April 2014 pukul 19:36:19 WIB 11.43 LS 162.17 BT dengan kedalaman 58 km, untuk gempa ini BMKG tidak mendiseminasikan peringatan dini tsunami.
Berdasarkan hasil analisis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tsunami tersebut tidak berdampak hingga wilayah Indonesia.
Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) memberikan informasi bahwa gempa tersebut kemungkinan berdampak menimbulkan tsunami lokal di sekitar pusat gempa yaitu Solomon, Vanuatu, dan Papua New Guinea.
Masyarakat dihimbau tenang dan tidak perlu panik. BMKG dan BNPB akan selalu menyampaikan informasi terkait gempa bumi dan tsunami secara resmi. Gempabumi tidak bisa diprediksi. BMKG mampu menyampaikan info gempa dan prediksi tsunami 5 menit setelah kejadian gempabumi. Pengembangan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) masih terus dilakukan pemerintah Indonesia. Begitu juga halnya dengan pelaksanaan Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami masih dilakukan. Pembangunan mitigasi struktural relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan kultural yang diharapkan masyarakat makin siap menghadapi bencana. Pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan meningkat. Namun belum menjadi perilaku dan budaya dalam mengantisipasi bencana.
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPBDitulis oleh aries
Sabtu, 02 Maret 2013 12:41

Gelar Potensi dan Pasar Rakyat

Dinas Perindagkop Kab.Sleman selama 4 Hari kedepan dimulai hari ini Kamis 9 Agustus 2012, di halaman balai Desa Kepuharjo digelar pasar murah bagi warga korban Merapi dari Desa Glagharjo, Kepuharjo, dan Umbulharjo, dengan menyediakan sembako murah sejumlah 2.000 paket seharga Rp.50.000 warga cukup membayar Rp. 10.000 tiap paketnya dengan sistem menukarkan kupon dari panitia yang telah  dibagikan ke masing-masing KK lewat pak Dukuh.

Selain paket sembako, dalam kesempatan yang sama juga digelar dagangan dari hasil produksi  para korban merapi mulai dari hasil olahan pangan sampai dengan kerajinan dan batik, harga dari tiap dagangan di diskon 50%.

Ditulis oleh aries

Kamis, 09 Agustus 2012 08:48

HUJAN ABU MERAPI

Menurut beberapa sumber berita dari warga Tritis kulon, pada hari Rabu, 18 Juli 2012 kira-kira pukul 06.00 WIB terdengar suara gemuruh dan gemludug dari arah Gunung Merapi. Hal itu diperkirakan runtuhan kubah lava yang lapuk. Dan memang benar, setelah itu terjadi hujan abu di beberapa daerah Magelang dan Muntilan. Namun di daerah Tritis kulon tidak terasa ada hujan abu. Pada hari Kamis, 19 Juli 2012, seorang warga Tritis Wetan,  kira-kira pukul 10.00 pagi sedang merumput di daerah utara desa Tritis (telah dekat kaki gunung Merapi), menceritakan bahwa terjadi hujan abu tipis di daerah utara desa Tritis Wetan. Dan selanjutnya ia pun pulang ke rumah dan menceritakan peristiwa tersebut kepada beberapa orang.

Ditulis oleh Murdiyono, S.Pd

Rabu, 25 Juli 2012 07:20

WASPADAI CUACA EKSTRIM

Telah beberapa hari ini, suhu udara terasa panas baik di siang hari maupun malam hari. Langit pun pada malam hari sering mendung tipis. Dan saat ini telah memasuki masa pancaroba dari musim penghujan ke kemarau. Namun, kadang masih terjadi hujan lokal di beberapa daerah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Hal inilah yang perlu kita waspadai karena masih terjadi hujan lebat di beberapa daerah dengan disertai angin kencang. Bagi warga yang memiliki pohon-pohon besar di sekitar  rumahnya hendaknya dahan maupun ranting yang rimbun segera dipangkas. Bagi daerah di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi, perlu waspada tinggi jika di puncak Merapi terlihat mendung tebal disertai hujan

Ditulis oleh Murdi

Selasa, 17 April 2012 13:52

BANJIR DI KALI BOYONG

Sleman- Hujan deras yang mengguyur wilayah Sleman bagian utara mulai pukul 13:15 WIB siang tadi (Senin, 28/11/2011) sempat menyebabkan aliran banjir di Sungai Boyong. Dari laporan pantauan dilapangan oleh para relawan, diperkirakan banjir berasal dari air yang di sekitar aliran Sungai Boyong karena di puncak hujan tidak lebat.

Dari kejadian siang tadi tidak ada laporan adanya korban jiwa. Hal ini karena warga yang beraktifitas di sungai, para penambang dan crew armada sudah menyingkir ke lokasi aman sebelum banjir terjadi.

Kejadian ini justru mengundang perhatian warga. Banyak warga yang berbondong-bondong untuk melihat dari dekat banjir. Seperti tampak di jembatan Pulowatu, Purwobinangun dan di jembatan Wringin.

Sementara itu, pada jam yang sama terjadi kecelakaan tunggal di jalan Pakem-Turi, tepatnya di pertigaan Jamblangan depan Pemotongan Ayam Sayap Mekar. Sebuah truck masuk ke saluran pengapit jalan. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakan tunggal ini. Hanya kaca depan yang hancur dan bemper depan penyok.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun di lokasi, truk tanpa muatan dengan nomor polisi AD 1422 QC itu datang dari arah Turi menuju arah Pakem. Dalam kondisi hujan lebat dan diduga ada ceceran solar di tikungan menyebabkan selip dan akhirnya masuk ke saluran di kanan jalan tersebut.

Dengan bantuan warga, akhirnya pada pukul 16:30, truk berhasil di naikkan.

 

Senin, 28 November 2011 18:30

 

PERESMIAN JEMBATAN SURAPANGGAH

Jembatan Surapanggah yang menghubungkan dusun Tritis dan Turgo Kelurahan Purwobinangun, Pakem diresmikan oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X pada tanggal 22 November 2011 pukul 15.00 WIB. Beberapa pejabat yaang hadir di antaranya Bapak Bupati Sleman Sri Purnomo ,Bapak Camat Pakem. Jembatan Surapanggah ini bisa dibangun karena banyaknya donatur yang dengan rela hati memberikan sumbangan demi membantu masyarakat Tritis Wetan dan Turgo. Jembatan yang lama hancur dan hanyut disapu banjir bandang pasca Erupsi Merapi 2010. Terselesainya jembatan Surapanggah, karena berkat guyub rukunnya masyarakat Tritis Wetan, Turgo, serta masyarakat dusun sekitar yang bergotong royong bahu membahu tanpa memandang perbedaan SARA. Hal inilah yang perlu dilestarikan oleh bangsa Indonesia yaitu kerukanan warga masyarakat demi kepentingan bersama.

Ditulis oleh Y. Murdiyono

Sabtu, 26 November 2011