Kepuharjo, Wajib Latih Penanggulangan Bencana Kembali Digelar

Posisi rawan, Paling banyak terdampak, diperlukan kesiapsiagaan tinggi.
KEPUHARJO – CANGKRINGAN. Hari ini Senin 23 Mei 2016, kembali digelar Pelatihan “ Wajib Latih Penanggulangan Bencana “ bagi Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Bertempat di RM Moro Lejar, pelatihan berlangsung selama 4 hari, peserta yang terdiri dari unsur Pem Des dan masarakat akan menerima materi Pelatihan yang diadakan oleh BPBD Sleman.
Desa Kepuharjo adalah Desa di Kecamatan Cangkringan yang letak / posisi dengan Gunung Merapi sangat dekat, berada persis di selatan Merapi, ketika Erupsi 2010 paling banyak terkena dampak. 5 Dusun tersapu oleh lahar panas dan awan panas, porak poranda rata dengan tanah, beruntung semua warganya waktu itu sudah diungsikan, sehingga selamat.
Sampai 2016 ini Bukaan Kawah Merapi terbuka lebar, menganga ke selatan, sehingga sewaktu-waktu erupsi lagi, praktis aliran material mengarah ke Desa Tersebut. Oleh karena itu Pemerintah lewat BPBD, sangat berkepentingan untuk mengantisipasi hal tersebut, maka Pelatihan kembali diadakan, dengan harapan Kewaspadaan, Kesiapsiagaan semua warga Kepuharjo selalu terjaga.

Beberapa Lokasi Camping dan Outbond, Di Cangkringan Paska Erupsi 2010

Erupsi 2010, menyimpan banyak bekas dan kenangan, sebagian lokasi disulap bernilai ekonomis.

CANGKRINGAN – SLEMAN. Paska Erupsi Merapi 2010, beberapa wilayah di Kecamatan Cangkringan, mengalami perubahan. Tanah subur mnjadi tandus, sawah / kebun menjadi sungai, banyak batu besar, keberadaan tebing-tebing baru dll. Hal demikian di beberapa wilayah, oleh warga dikelola / dimanfaatkan, disulap menjadi lahan yang bernilai ekonomis tinggi, yakni dijadikan tempat untuk arena bermain, outbond dan perkemahan.

Wilayah tersebut diantaranya adalah:
1. Bumi Perkemahan Gondang 2, terletak di Huntap Gondang 2 Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan, hamparan pekarangan yang cukup luas bekas huntara / selter, dimanfaatkan untuk Camping dan Outbond dengan fasilitas Bangunan sekertariat, Panggung, Kamar mandi toilet dll.
2. Buper Sino Lewah, di Desa Umbulharjo Cangkringan, fasilitas rumah Panggung, MCK, Outbond dll.
3. Buper Lapangan Stiper, di Dusun Kali tengah Lor Desa Glagaharjo, Cangkringan.
4. Bumi Perkemahan Penting sari, terletak di Dusun Penting sari Desa Umbulharjo, Cangkringan, fasilitas komplit.
5. Kampung Wisata “ Mata Air Teplok “, terletak di Dusun Teplok Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, fasilitas Area Camping, Outbond, rumah singgah, dll.
6. Wono Gondang, di Desa Umbulharo Cangkringan, fasilitas Buper & Outbond, dll.
Beberapa tempat tersebut bisa dijadikan alternatif, pendidikan, wisata, olah raga, untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Matur Nuwun …! Jembatan Watu Gede Sudah Mulai Diperbaiki

ARGOMULYO – CANGKRINGAN. Wajah-wajah ceria nampak pada para pengguna jalan, perlintasan Sungai Gendol / Jembatan Watu Gede, karena Mei 2016 ini sudah dimulai perbaikan / pembangunannya. Karena sejak Erupsi Merapi 2010 kondisi jembatan tersebut rusak parah, sehingga pengguna jalan harus ekstra hati-hati ketika lewat disitu.
Jembatan Watu Gede, terletak di timur dusun Bronggang Suruh Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, melintas di sungai Gendol, merupakan jalur utama bagi akses masarakat setempat. Menghubungkan Argomulyo dengan Desa Glagaharjo, juga jalur Kabupaten Sleman menuju Kabupaten Klaten. Juga sebagai jalur ekonomi, pendidikan, karena di barat dan timur sungai Gendol terdapat beberapa Sekolahan dari TK sampai SLA, 3 Pasar Tradisional yang cukup ramai di setiap harinya.
Pembangunan Jembatan Watu Gede, serentak dibangun beberapa jembatan yang lain, yang ada di utara perlintasan tersebut, sehingga diperkirakan memakan waktu beberapa bulan.
Menurut Pak Sipur, warga Desa Glagaharjo, yang setiap hari melintas dengan membawa Rumput pakan ternak “ Wah senang mas jembatan Watu Gede dibangun, sejak Gunung njebluk ( Merapi Meletus ) 2010, jalan / jembatan ini rusak parah, ibarate kali asat ( seperti sungai kering ). Pada hal, Jembatan ni jalur saya dan rekan-rekan pencari Damen ( rumput ), maka ya seneng jembatan ini diperbaiki, ya nuwun ( terima kasih )”.
Komplek tersebut terdapat benda bekas keganasan letusan Merapi 2010, sehingga harus tetap dilestarikan / dinampakan dan dipelihara, jangan sampai dihilangkan, seperti keberadaan Batu Besar di tengah perlintasan. Beberapa Pejabat Desa setempat dan warga terutama para relawan, meminta agar keberadaan Batu Besar ( Watu Gede ) tetap di situ tidak dipindah-pindah, sebagai tugu peringatan keganasan Merapi, sehingga warga tetap waspada.

BPBD Adakan Pelatihan Tentang Manajemen Posko Bagi Komunitas Relawan se-Sleman

Bencana Merapi, Banjir, sering berakibat Pengungsian, maka perlu Pengelolaan Posko secara Profesional.

P A K E M – S L E M A N . Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kabupaten Sleman, pada tanggal 18 Mei 2016 mulai mengadakan serangkaian kegiatan Pelatihan bagi Komunitas Relawan yang terdaftar, Pelatihan dikususkan untuk Manajemen Posko / Pengelolaan Posko.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Posko Utama ( PU ) Pakem, sebanyak 49 Komunitas yang masing-masing ada yang diambil 2 ada yang 3 orang, hingga berjumlah 114 orang, dilatih dalam 3 tahapan.
1. Tahap pertama dilaksanakan hari Rabu – Jum’at, tanggal 18 s/d 20 Mei 2016, sebanyak 16 Komunitas dengan jumlah peserta 38 orang.
2. Tahap kedua, hari Senin – Rabu tanggal 23 s/d 25 Mei 2016, berjumlah 16 Komunitas peserta 38,
3. Tahap ketiga , hari Kamis – Sabtu tanggal 26 s/d 28 Mei 2016, juga 16 Komunitas dan peserta 38 orang.
Peserta utusan dari Komunitas, diperuntukkan bagi yang belum pernah mengikuti jenis Pelatihan yang sama, dan dianjurkan dengan klasifikasi Relawan Pos Komando, Komunikasi dan Informasi.
Salah satu tujuan Pelatihan ini, adalah untuk membekali para Relawan kususnya di bidang Kebencanaan, agar mengetahui tentang Manajemen Pengelolaan Posko secara benar, sehingga apabila diperlukan sudah siap.

Lagi, Kejadian Kebakaran di Pakem

Pakem, Kamis 19 Mei 2016 kembali terjadi kebakaran di wilayah  Pakem, kali ini terjadi di HD Tent Jalan Cangkringan No 1 Pakem atau tepatnya di selatan Posko Utama Pakem, adapun obyek yang terbakar adalah meteran listrik. Kejadian tersebut pada pukul  17:15 WIB Rupusdalops menerima laporan langsung dari tempat kejadian, segera ditindaklanjuti  petugas piket TRC dengan menggunakan 3 tabung APAR, beberapa menit kemudian api langsung padam meskipun sempat muncul kembali namun cepat dapat diatasi.

Pudalops menyampaikan laporan tersebut ke PLN dan segera memberikan respon, perlu diketahui ketika meteran terbakar PLN mengharapakn pelapor memberikan keterangan jelas tentang nomer meteran dan atas nama pelanggan listrik tersebut, sesuai konfirmasi kami yang di PUSDALOPS,  hal tersebut dimaksudkan untuk penanganan lanjut jika harus ada penggatian segera pada perangkat meteran, demikian keterangan dari petugas PLN Sleman.

Kejadian kebakaran  tersebut cepat tertangani  berkat sinergi kecepatan laporan korban, faktor kedekatan dan penanganan dengan perangkat yang siap sehingga tidak sampai menjalar. Kita selalu berharap agar semua unit usaha agar tersedia unit APAR agar kebakaran yang dari skala kecil cepat teratasi sehingga dapat meminimalisir korban maupun kerugian. (den)

Pelatihan Bertajuk Wajib Latih Penanggulangan Bencana Kembali Diadakan Di Desa Umbulharjo Cangkringan

UMBULHARJO – CANGKRINGAN. BPBD Kabupaten Sleman, di 2016 ini kembali mengadakan kegiatan Wajib Latih Penanggulangan Bencana di beberapa Desa, yang salah satunya adalah Desa Umbulharjo Cangkringan.
Pelatihan diadakan selama 6 hari, yakni 4 hari berupa Penyampaian Materi, sehari untuk Gladi Kotor, dan diakiri dengan Gladi Lapang ( Simulasi ). Penyampaian materi dimulai hari ini, Senin 16 Mei sampai Kamis 19 Mei 2016 bertempat di Moro Lejar Wukirsari. Peserta Wajib Latih berjumlah 30 orang, berasal dari unsur Pem Des, Tokoh Masarakat dan Para Penggiat Kebencanaan yang ada di Desa tersebut.
Selama Pelatihan peserta akan menerima 12 Materi yang berkaitan dengan Kebencanaan, yakni:
1. Kebijakan PB di Kabupaten Sleman,
2. Perkembangan Merapi Terkini,
3. Peta Resiko, Ancaman dan Kerentanan,
4. Tata Kerja & Tugas Unit Ops dan Unit Laks PB,
5. Informasi Prakiraan Cuaca dan upaya kesiapsiagaan warga,
6. Review Data Demografi warga,
7. Penanganan Kedaruratan dan Logistik,
8. Ancaman Banjir Lahar Hujan Merapi,
9. Rekonti 1,
10. Skenario Gladi dan SOP,
11. Tentang PPGD,
12. Manajemen Kesehatan Darurat Bencana.
Nara sumber berasal dari para pakar, sesuai pada bidangnya, yakni dari BPPTKG Jogja, BBWSO, PMI, BMKG, BPBD sendiri. Selain untuk menyegarkan kembali dan tetap menjaga kewaspadaan, mitigasi bencana, pelatihan ini juga untuk memantapkan tentang tugas Unit Ops & Unit Laks yang ke depan sebagai ujung tombak dalam Penanganan Bencana.

Destinasi Wisata, Olah Raga Dan Hiburan Di Kali Gendol Sindumartani Ngemplak

SINDUMARTANI – NGEMPLAK SLEMAN. Hari minggu 15 Mei 2016, di tengah-tengah sungai Gendol, Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman, digelar even Lomba OF ROOD roda empat ( Jeep, Hartop ), seharian penuh lomba digeber dan berakir dengan lancar dan sukses.

Area balapan terletak di tengah sungai Gendol, sekitar jembatan penyeberangan Dusun Tambakan Sindumartani. Bekas Lahar Dingin dan Penambangan galian C, oleh masarakat disulap menjadi arena balap, hal ini menjadikan destinasi wisata baru bagi daerah tersebut, sebagai olah raga dan penyaluran bakat bagi peserta lomba, sebagai hiburan segar bagi masarakat, lahan baru untuk dagang / bisnis bagi warga.
Gelaran even tersebut diikuti puluhan armada jeep, mempertandingkan beberapa kelas, bagi penonton puas disuguhi pemandangan / atraksi menarik, karena beberapa armada harus berjuang keras untuk menaklukan rintangan, tak sedikit yang jungkir balik dan harus ditarik oleh mobil lainnya.
Menurut salah seorang peserta, mengatakan “ lokasi ini lumayan untuk ajang lomba, warga dan masarakat pandai memanfaatkaan tempat. Pada hal sungai, tapi bisa disulap menjadi tempat yang bernilai ekonomi, saya kira selain sini, mestinya ada lokasi lain yang serupa yang dapat disulap menjadi arena wisata dan olah raga alam, tambahnya “.

4 Komunitas Relawan Lereng Merapi, Kawal Banjir Trail Pondok AL-QODIR

Banjir Trail, wisata Trail di lokasi bekas erupsi merapi 2010 Cangkringan.
WUKIRSARI – CANGKRINGAN. Pada hari Minggu tanggal 15 Mei 2016, 4 Komunitas Relawan yang ada di Kecamatan Cangkringan, membantu mengawal, mengamankan, infokom, pada acara yang bertajuk “ MERAPI BANJIR …..TRAIL “, dalam rangka Akirussanah Pondok Pesantren Al-Qodir, Tanjung Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

4 Komunitas yang dimaksud adalah, S K S B , K S M, A M C, dan Mercuri, adapun kegiatan yang dilakukan meliputi, bantuan komunikasi dari tiap-tiap titik, pengaturan jalan di tempat rawan, penunjuk jalan, evakuasi peserta yang terjatuh, PPGD bagi korban terjatuh.
Peserta banjir Trail, sekitar 700 sepeda motor, berasal dari beberapa daerah , yakni dari Croser Jogja sendiri, Klaten, Solo, Semarang, Tasik Malaya, Jakarta, Papua, Purworejo, Bandung, Suroboyo. Rute yang dilalui, berangkat / star dari Lapangan Pondok Al-Qodir ke utara menyusuri Kali Kuning, Kinah Rejo, Kali Opak, Banker Kaliadem, Kali Gendol, Batu Alien, Glagah Sari, Polsek, Finis Pondok lagi.
Karena banyak medan trek yang ekstrim, menyebabkan banyak peserta yang terjatuh, dan sakit, hingga beberapa harus dilarikan ke R S Panti Nugroho Pakem. Salah seorang Panitia mengatakan “ Untung even ini dibantu oleh temen-temen Komunitas Relawan, bayangkan peserta segitu banyak, dan ternyata banyak insiden kecelakaan, tetapi berkat kesigapan temen-temen di lapangan, semua dapat diatasi, maka mewakili panitia apresiasi yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih atas bantuannya. Dan harapan panitia semoga kedatangan peserta dari luar daerah, ke depan akan menambah gaerah wisatawan berkunjung di Obyek-obyek wisata di Lereng Merapi, kususnya di Kecamatan Cangkringan.

DIY Terancam Kekeringan Bila Salah Kelola Lingkungan

Kekeringan? mungkinkah bisa terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta? Jawabnya tentu sangat mungkin, bila pengendalian tata kelola lingkungan kurang maksimal atau diabaikan.Hal ini dapat kita lihat dengan adanya laju pembangunan gedung bertingkat entah hotel, ruko,pabrik yang kita jumpai baik di lingkungan kodya,dan empat kabupaten yang ada di daerah ini menunjukkan laju pendirian rimba beton tampak semakin banyak, sehingga salah satu ikon keistimewaan Yogyakarta pun mulai ikut tergusur. Hawa di Yogyakarta kini juga terasa semakin gerah dan suhu terdingin hanya berkisar 20 – 24 Celcius.
Apa penyebab kemungkinan kekeringan yang mengancam di daerah ini? Antara lain adanya kesan pembiaran terhadap berlangsungnya penambangan pasir di kawasan perkebunan, di lereng – lereng sisi Utara dilereng gunung Merapi, semakin menyempitnya kawasan hijau, belum maksimalnya upaya penghijauan di lahan kritis, zona kawasan tangkapan air ikut tergusur dengan munculnya rimba-rimba beton (gedung bertingkat).
Adakah yang dapat kita lakukan? Mendorong effektifitas penerapan perda setempat dalam penerapannya di lapangan, tentang ketentuan penambangan dilahan perkebunan penduduk, mendorong upaya konservasi mandiri pada masyarakat secara berencana dan terus menerus, pengendalian pembangunan gedung bertingkat di zona hijau, bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk terlibat dalam upaya konservasi lingkungan, semoga bencana kekeringan bisa kita cegah bersama.

10 Komunitas Relawan Bergabung Dengan BPBD Sleman, Sehingga Menjadi 49 Komunitas

S L E M A N . Di pertengahan 2016 ini, 10 Komunitas Relawan bergabung dengan BPBD Sleman, beberapa merupakan Komunitas baru lainya tahun lalu belum sempat bergabung.
Ke 10 Komunitas Relawan yang baru bergabung, yakni:
1. KLM , Karang geneng, Umbulharjo, Cangkringan,
2. SembD Rescue, Balai Desa Maguwoharjo, Depok,
3. Prambanan Community, Bokoharjo, Prambanan,
4. PRB Mlati, Jln. Letkol Subardi 07/24 Kules, Sumberadi, Mlati,
5. Seyegan Rescue, Mriyan, Seyegan,
6. SAR Sena, Perum Lojajar, Ngaglik,
7. Karbala,
8. Bagong acaommunity, Ngaglik,
9. Senkom Mitra Polri, Sendangadi, Mlati,
10. KPGW, Caturtunggal, Depok.
Sebelumnya Komunitas yang mendaftar di BPBD Sleman sebanyak 39 dengan jumlah relawan 1.600 orang, dengan tambahan ini jumlahnya menjadi 49 Komunitas.