KEMBALI KOMUNITAS RELAWAN SKSB CANGKINGAN KEHILANGAN SALAH SATU ANGGOTANYA

CANGKRINGAN. Pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, SKSB Cangkringan kehilangan salah satu anggotanya, meninggal dunia karena sakit.
SKSB merupakan salah satu diantara Komunitas Relawan yang bergerak di bidang kebencanaaan di Kecamatan Cangkringan, kususnya Pantauan Cuaca, Lahar Hujan, Aktifitas Gunung Merapi. Saat ini anggota yang terdaftar di BPBD Sleman sekitar 40 orang ( yang aktif ), dengan klaster / kemampuan / skill yang berbeda-beda.
Salah satu anggotanya yakni Tumarno nama udara Pak Tekong, alamat Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman dengan No Induk Organisasi A06.07.106, meninggal dunia karena sakit. Meninggal pada hari Rabu 22 April 2015 di RS Panti Rapih jam 02.00, Pemakaman dilakukan pada hari Kamis 23 April 2015 di Makam Dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.
Dari RS Panti Rapih Pak Tekong dinyatakan infeksi Paru-paru akut dan adanya cairan disekitar organ tersebut, selama 2 Minggu dirawat di rumahnya yakni di Huntap Batur, Kepuharjo, Cangkringan kemudian hari Senin tanggal 20 April 2015 dibawa ke Rumah Sakit hingga akirnya Rabu malam meninggal dunia.
Pak Tekong adalah salah satu anggota Relawan SKSB yang Gigih, Tanpa mengenal lelah, Pemberani, Tangguh, Supel. Beliau salah satu pemberi informasi baik cuaca maupun Lahar Hujan / Pemantau Lahar Hujan di Bantaran Sungai Gendol, tepatnya di Pos 1 Kopeng bersama Mbah KM, disamping memantau di Penyeberangan Kopeng – Srunen. Apabila di daerah lain kususnya di bawah ada angin puting beliung, pohon tumbang, tanah longsor dsb, beliau tak kenal waktu, tak kenal lelah turun ikut membantu bergotong royong.
Namun sayangnya, rupanya paska erupsi 2010 ketika bertugas memantau di pinggir sungai Gendol ketika ada aliran / banjir, kebanyakan tidak memakai alat pelindung pernapasan / masker, padahal folume asap masih tinggi waktu itu ketika ada aliran ( asap menurut info mengandung zat yang berbahaya ). Ditambah lagi aktifitas kesehariannya dekat dengan Penambangan material Merapi dengan alat Berat ( folume asap / bleduk / kebul tinggi ), menurut beberapa teman anggota SKSB yang tidak mau disebut namanya memprediksikan “ Kemungkinan sakitnya Pak Tekong yang paru-paru itu, berawal dari polusi asap, abu, bleduk, baik dari aliran banjir kali Gendol maupun aktifitas Penambangan yang ketika itu masih banyak mengeluarkan asap / bleduk , sedang tidak pakai masker ”.
Menurut Ketua SKSB Supri yadi “ Kabar meninggalnya Pak Tekong sangat mengejutkan dan mengagetkan, dan merasa sangat kehilangan sosok yang dapat diandalkan, namun karena sudah suratan Takdir, maka ya kita iklaskan, semoga meninggalnya husnul khotimah, diampuni segala dosa-dosanya, diterima segala amalnya, dan ditempatkan pada tempat yang aman dan nyaman di SisiNya, Amin “.
Doa dan harapan juga disampaikan Ketua Pelaksana BPBD Sleman Pak Yuli, mewakili jajarannya, sekaligus ucapan terima kasih atas peran serta, dan perjuangannya dalam membantu di setiap penangan bencana, kusunya yang terjadi di Kec. Cangkringan.
Selamat Jalan Saudaraku, Semoga Alloh memberikan tempat yang nyaman. Amin.

HUJAN LEBAT DI SLEMAN TIMUR MENGAKIBATKAN BEBERAPA KEJADIAN

Hujan lebat durasi diatas satu jam, banyak kejadian diantarana pohon tumbang, kolam jebol, petir menyambar listrik dll.
SLEMAN TIMUR – CANGKRINGAN. Hujan dengan kapasitas sedang sampai di atas sedang dengan durasi di atas 1 jam terjadi di Sleman, kususnya Sleman Timur. Hujan terjadi Hari Rabu 22 April 2015 dari jam 17.00 sampai 19.00 WIB, mengakibatkan beberapa kejadian baik pohon tumbang, talut roboh, sungai-sungai kecil meluap dll.
Kembali terjadi cuaca ekstrim kususnya di Sleman Timur dan Utara, yakni hujan lebat disertai Petir dan angin kencang, hingga dibeberapa daerah terjadi beberapa kejadian yang mengakibatkan kerusakan, diantaranya:
1.Sungai sekitar Koramil Cangkringan meluap ke jalan raya sehingga jalan alternatif Magelang – Prambanan terganggu , banyak batu kerikil,
2.Terjadi pohon tumbang di dusun Bayen, Tegalsari, Kalimati Kecamatan Kalasan,
3.Kolam ikan milik Bp Untung Slamet Argomulyo dadal karena air sungai meluap, mengakibatkan kerugian ikan terbawa arus,
4.Jembatan Poles yang menghubungkan Pakem – Turi terputus, karena tergerus aliran sungai lokal,
5.Terjadi pohon tumbang melintang di jalan Pakem – Cangkringan, tepatnya selatan Dusun Keten, Wukirsari, Cangkringan,
6.Air masuk Rumah Warga di Pakem,
7.Petir menyambar listirk, beberapa rumah warga Dusun Jaranan, Argomulyo, Cangkringan listrik menjadi padam, beruntung tidak ada kurban,
8.Rumah milik Bp Heru, dusun Karanglo, Argomulyo, Cangkringan kemasukan air karena sungai lokal meluap,
9.Dan yang lainya, dimana berita ini ditulis masih dalam pendataan.
Beberapa pohon tumbang tetap dikondisikan di gelapnya malam oleh SAR BPBD Sleman dibantu beberapa Komunitas setempat. Curah hujan intensitas sedang hingga di atas sedang tidak terjadi di puncak Merapi sehingga sungai Gendol, Opak maupun Kuning tidak terjadi aliran yang membahayakan pemukiman warga

GLADI LAPANG DAN PENGUKUHAN DESA TANGGUH BENCANA (DESTANA) HARGOBINANGUN

Sleman, Pengukuhan Desa Tangguh Bencana  (DESTANA) Hargobinangun Pakem dilakukan di Barak Pandanpuro Hargobinangun oleh Bapak Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSi pada kamis, 9 April 2015 dan sekaligus peresmian Sekolah Siaga Bencana (SSB) SD N Kiyaran I Cangkringan, SD N Umbulharjo dan SMP  N I Cangkringan.

Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU oleh pemerintah Desa Hargobinangun dengan RS Grasia, Kampus UII dan PPG Kesenian untuk bekerjasama dalam penanganan pengungsian apabila sewaktu-waktu terjadi gelombang pengungsian.

Acara yang diadakan oleh BPBD Propinsi Yogyakarta dan BPBD Kab. Sleman dilanjutkan dengan gladi lapang yang diikuti oleh 210 undangan terdiri dari 12 Dusun dan 3 daerah persiapan, yang melibatkan unsur TNI/Polri, FPRB Pakem, PMI, Tagana, SAR dan komunitas setempat.

bupati

SEPUTAR KABUPATEN SLEMAN 2 HARI INI 26 – 27 MARET 2015, KEMBALI DILANDA ANGIN KENCANG, HINGGA MEMAKAN KORBAN JIWA DAN PULUHAN RUMAH TERTIMPA POHON

Lagi-lagi Angin Kencang / Puting Beliung Melanda Seputaran Kabupaten Sleman .

SLEMAN. Hari Rabu dan Kamis 26 – 27 2015 Puluhan rumah tertimpa pohon tumbang, akibat angin Kencang disertai hujan di seputaran Kabupaten Sleman, bahkan memakan korban 3 warga Temanggung, Tambakrejo, Tempel, Sleman.
Hari Rabu terjadi hujan di beberapa tempat, kususnya di seputar Kabupaten Sleman, diantaranya di dearah Trimulyo puluhan rumah tertimpa pohon, di Kecamatan Turi, Kecamatan Seyegan, Minggir, tercata semuanya sekitar 21 rumah rusak tertimpa pohon, bahkan di Tempel 3 orang meninggal karena tertimpa bangunan akibat angin kencang, ketiganya dikebumikan hari ini Kamis 27 Maret 2015 jam 11.00.
Sedang Kamis 27 Maret 2015, sekitar jam 14.30 Seputar Kabupaten Sleman kembali terjadi hujan disertai dengan angin kencang, hingga mengakibatkan banyak pohon roboh yang melintang di jalan, menimpa Kabel Listrik, menimpa kendaraan, puluhan rumah rusak tertimpa pohon.
Beberapa tempat pohon tumbang menimpa rumah, diantaranya:
1. Seputar Rumah Makan Jejamuran Pendowoharjo,
2. Dusun Tlacap, Pendowoharjo, pohonnmenimpa rumah dan kandang burung Puyuh,
3. Perum GTA, Pendowoharjo,
4. Dusun Karang Tanjung, beberapa pohon tumbang mengenai beberapa rumah,
5. Di daerah Plaosan, Tlogoadi Mlati, beberapa rumah tertimpa pohon mlinjo, duku,
6. Dusun Jongke Lor, Sendang adi Mlati,
7. Jongke Tengah, Pohon Jati menimpa rumah,
8. Di Ringroad Barat satu Pohon roboh melintang di jalan,
9. Di Dusun Ketingan, Cebongan pohon tumbang,
10. Dusun Duwet, Sendang adi, Mlati beberapa pohon tumbang menimpa rumah,
11. Komplek Kabupaten dekat Kantor PDIP, pohon tumbang,
12. Di Daerah Pangukan pohon kelapa roboh melintang di jalan menuju dusun,
13. Di Sariharjo, Ngaglik beberapa pohon tumbang,
14. Kampung Jogang, pohon tumbang,
15. Dusun Jethaan, Pendowoharjo 2 rumah tertimpa pohon Mindi dan Talok,
16. Dusun Mudal, pohon tumbang mengenai rumah,
17. Dan masih ada tempat lain yang sampai berita ini ditulis masih dalam pendataan.
SAR Kabupaten Sleman yang belum sempat istirahat mengkondisikan pohon tumbang di hari Rabu, disusul kejadian yang lebih banyak di hari Kamis, bau membahu bersama-sama dengan Komunitas-komunitas Relawan Kebencanaan, mengkondisikan pohon yang roboh, terutama yang melintang dijalan dan yang menimpa rumah, dan kejadian di hari Kamis 27-03-2015 tidak ada korban jiwa, hanya cukup banyak rumah yang tertimpa pohon.

PROFIL SKSB ……………….

BAGIAN 2.
Kantor sekertariat SKSB awalnya berada di Dusun Jambu, Kepuharjo, Cangkringan, namun karena tersapu lahar panas Merapi di Erupsi besar 2010, sekertariat pindah di selatan lapangan Golf Cangkringan.
Masarakat Cangkringan setelah pulang dari Pengungsian ( Lapangan Maguwoharjo ), hampir semua berbenah – benah diri, menata kembali rumah, pindah ke Selter, memulihkan rasa trauma,pemulihan sektor Pertanian, Perdagangan, Pendidikan, dll, sehingga peran SKSB cukup diperlukan. Apalagi ditambah ancaman baru yang timbul yang sangat menghantui masarakat , yakni Banjir Lahar Hujan dari Merapi, karena hulu sungai-sungai di Merapi semua dipenuhi material hasil Erupsi.
Hampir semua informasi diakses lewat HT, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan warga yang ada di barak Sementara, dan informasi tentang cuaca, terjadi banjir . Sehingga bermunculan tenaga-tenaga / relawan baru yang ikut membantu warga, mereka bergabung dengan SKSB , terdata ada 159 orang yang berasal dari berbagai daerah.
Peran yang sangat fital adalah Pemantauan Lahar Hujan/Banjir, baik di Sungai Opak, Gendol maupun Sungai Kuning, tidak kurang dari 75 titik Pantau dengan 125 Personil berjaga di Pinggir Kali bila terjadi banjir, mereka dengan suka rela, dengan alat seadanya memberikan informasi tentang situasi dan kondisi di titik pantauannya. Juga ketika terjadi letusan Merapi Freatif SKSB juga berperan ikut mengkondisikan warga, menenangkan, evakuasi, disamping memberikan informasi-informasi kepada masarakat.
Dengan bantuan BPBD Kabupaten Sleman SKSB dapat mendirikan Repiter/Menara Pancar Ulang yang berada di Dusun Batur, Kepuharjo, Cangkringan sekaligus dengan Ijin dari Kominfo ( ISR ), dilengkapi AD/ART dan Akte Notaris, serta sebanyak 60 anggotanya dicarikan Ijin Memancar dengan berkolsen dari RAPI Sleman.
Berkembangnya waktu akirnya di Cangkringan bermunculan Komunitas-komunitas baru, hampir semua Desa membentuk Komunitas sendiri-sendiri, namun dalam kiprahnya tetap bersatu lewat Frekwensi SKSB sebagai jalur Utamanya. Di 2014-1015 ini BPBD melakukan Pendataan Komunitas terutama Keanggotaan Resmi dan Aktif, SKSB tinggal 43 Orang yang terdata sebagai Anggota Aktif, karena sudah banyak yang menjadi anggota di Komunitas di Desanya .
Ditemui di rumahnya Pak Tiwul sebagai ketua SKSB Demisioner mengatakan “bahwa SKSB adalah wadah teman-teman yang senang berpetualang dalam giat kebencanaan, dengan misi Kemanusiaan Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe, berbuat dan bertindak semampunya dengan tetap memperhatikan keselamatan diri sendiri”.
Slogan yang terkenal di SKSB “ Lemah Teles, Gusti Alloh Sing Mbales “ ( Bekerja dengan Tulus Iklas, dan Hanya Mengharap Ridlo Alloh Tuhan Yang Maha Esa ), ditanya tentang peralatan yang dipunyai, Pak Supri yadi Calon Ketua SKSB baru mengatakan “ SKSB tidak punya apa-apa, hanya punya karep / kemauan dan kebersamaan, komunitas hidup semampunya/seadanya, isin / malu kita minta-minta, dan yang kita punya sekarang 4 buah senter, 1 Repiter komplit, dan justru BPBD serta Instansi lain yang memperhatikan komunitas kami dengan memberikan bantuan, maka ucapan terima kasih kepada mereka, dan mohon doanya semoga komunitas kami tetap eksis dalam giatnya “.

MUSIM PENGHUJAN 2014-2015 KABUPATEN SLEMAN DIDOMINASI TANAH LONGSOR DAN PUTING BELIUNG

Angin Puting Beliung mendominasi bencana di Sleman disamping tanah longsor, maka antisipasi dan kesiapsiagaan warga sangat dibutuhkan.
SLEMAN – CANGKRINGAN. Sampai Bulan Maret 2015 ini Musim Penghujan masih berlangsung di Kabupaten Sleman, bukan Banjir Lahar Merapi yang terjadi hingga membahayakan warga, namun Angin Kencang / Puting Beliung dan Tanah Longsor yang banyak terjadi hingga beberapa rumah warga menjadi korbanya / rusak.
Pelatihan-pelatihan yang bertajuk Penanggulangan Resiko Bencana / PRB yang diprakarsai BPBD Kabupaten Sleman , yang diawali dengan pemberian materi Tiori dan diakiri dengan Simulasi cukup tinggi frekwensinya. Pelatihan tersebut mayoritas dipusatkan di daerah-daerah bantaran sungai-sungai yang berhulu di Merapi, yakni Pelatihan Penanggulangan Lahar Hujan/Banjir dan Penanggulangan Letuan Gunung Merapi.
Sampai Panca Roba mendekati datangnya musim Kemarau 2015 ini Banjir Lahar Hujan Merapi , praktis hampir tidak terjadi hanya di sungai Gendol dan Boyong yang terjadi, itupun frekwensi dan folumenya di atas kecil dan durasinya pendek. Justru kejadian-kejadian yang terjadi adalah tanah longsor dan angin kencang atau puting beliung. Misalnya Bencana Tanah Longsor terjadi dibeberapa titik, seperti:
1.Di Kec. Prambanan, yakni di Desa Gayamharjo, Desa Wukirharjo beberapa rumah rusak,
2.Di Kec. Kalasan satu rumah terkena longsor,
3.DI Dusun Prapak, Minggir,
4.Dll.
Sedang Angin Kencang / Puting Beliung dalam waktu 5 Bulan ini banyak terjadi, pohon tumbang menghalangi pengguna jalan hingga pohon roboh menimpa rumah, seperti:
1.Angin Kencang terjadi di Godean, menimpa mobil dan rumah,
2.Angin Kencang terjadi di Argomulyo menyebabkan pohon tumbang menimpa rumah,
3.Terjadi di Kec. Minggir beberapa rumah rusak tertimpa pohon,
4.Kejadian di Kec. Pakem banyak pohon tumbang ada yamg menimpa rumah,
5.Angin Kencang/Puting Beliung terjadi di Kec. Seyegan, menimpa beberapa rumah,
6.Di Desa Sardonoharjo beberapa pohon tumbang,
7.Kembali di Minggir dan Seyegan terjadi angin Kencang beberapa rumah rusak tertimpa pohon,
8.Di Kec. Kalasan beberapa rumah tertimpa pohon,
9.Dan kemarin sore Rabu 26 Maret 2015 kembali terjadi Angin Kencang / Puting Beliung di beberapa tempat, di daerah Trimulyo Sleman beberapa rumah tertimpa pohon, di daerah Minggir beberapa rumah juga tertimpa pohon, di Sleman Kota pohon tumbsng melintang di jalan.
Beberapa kejadian tersebut, perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi semua Pemangku Kepentingan, sehingga perhatian terhadap antisipasi dan kesiapsiagaan terhadap Bencana Tanah Longsor dan Angin Kencang/Puting Beliung lebih ditingkatkan, begitu juga Sarana dan Prasarana dilengkapi kususnya para penggiat Kebencanaan misal Komunitas, Relawan ( Gergaji Senso, Kapak,Lampu tembak, jenset ), dan Pelatihan-pelatihan PRB di daerah terdampak sangat perlu diadakan.

SEKILAS PROFIL KOMUNITAS RELAWAN SKSB CANGKRINGAN

BAGIAN 1.
Cangkringan rentan terhadap bencana Merapi, beberapa Pemuda berinisiatif membentuk Paguyuban bantuan Penannggulangan Bencana.
CANGKRINGAN. Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman berada di selatan Gunung Merapi, sehingga setiap Merapi naik aktifitasnya sampai terjadinya letusan, akan berdampak pada keselamatan warga, sehingga perlu antisipasi Penanggulangan Resiko Bencana. Peristiwa Letusan di tahun 2006, beberapa Pemuda di sekitar Desa Kepuharjo punya gagasan untuk membentuk Forum atau Paguyuban yang bergerak di bidang Bantuan Penanggulangan Bencana, maka terbentuklah SKSB ( Saluran Komunikasi Sosial Bersama ).
Sebelum Erupsi Merapi 2010, letusan-letusan Merapi berlangsung secara periodik, yang terkenal dengan sebutan siklus Merapi, dari siklus 4 tahunan, siklus dua tahunan. Siklus Merapi meletus 4 tahunan terjadi di 2006, beberapa Dusun Desa Kepuharjo mengungsi di Barak Kepuharjo, dari situlah akirnya muncul Paguyuban SKSB, tepatnya tanggal 16 Juli 2006 didirikan dan disahkan pada tanggal 15 September 2006 oleh Notaris tertanda tangan Cecep Tedi Siswanto SH.
Pada awalnya anggota SKSB sebatas Pemuda yang ikut membantu Pengungsian di Barak Kepuharjo yang terdiri dari:
1.Anggota SAR Linmas Propinsi yang ada di Cangkringan,
2.Anggota SAR PB Sleman yang ada Cangkringan,
3.Forum Peduli Lingkungan PALEM Kepuharjo,
4.PASAK Merapi Kepuharjo,
5.Karang Taruna Desa Kepuharjo,
6.Sebagian anggota Masarakat.
Adapun maksud dan tujuan Paguyuban ini adalah sebagai wadah giat para pemuda kususnya yang peduli terhadap bantuan penanganan bencana, untuk membantu warga/masarakat yang terkena musibah/bencana kususnya dampak letusan Merapi, baik evakuasi, pencarian, ataupun penanganan di Barak.Sebagai Pembina dan sesepuh SKSB waktu adalah Bp Ir. RM. H Gembong Danu Diningrat, warga Kota Jogja yang kebetulan mempunyai ternak lembu di Daerah Kepuharjo, dengan Ketua Pak Sriyanto dikenal dengan nama Pak Tiwul.
2006 sampai 2010 sekertariat SKSB berada di rumah Pak Tiwul Dusun Jambu lama Desa Kepuharjo, dengan peralatan sederhana yakni alat Komunikasi HT dan Antene telek, ketika Erupsi Merapi 2010 Dusun Jambu luluh lantak, mengakibatkan semua aset SKSB hilang tersapu lahar panas Merapi, dan sekertariat pindah di selatan Lapangan Golf Cangkringan.
Bersambung ………………

MENEJEMEN KOMUNITAS RELAWAN OLEH BPBD SLEMAN

Komunitas Relawan Kebencanaan menjamur, agar tertata dan efektif BPBD Sleman melakukan Pengelolaan/Pendataan.

SLEMAN. Komunitas Relawan Kebencanaan di Kabupaten Sleman cukup banyak, tersebar di hampir seluruh Kecamatan, instansi terkait yakni BPBD berupaya agar keberadaan Komunitas tertata, terprogram, tidak tumpang tindih, melakukan pendataan, tertib administrasi, dan Pengelolaan.
Paska Erupsi Merapi 2010, kususnya di Kabupaten Sleman bermunculan Komunitas- Komunitas Relawan yang bergerak di Kebencanaan. Sekitar 50 Komunitas dengan anggota mencapai ribuan berada di Sleman, jumlah yang sekian banyak perlu ditata / dikelola dengan menejemen yang tepat, sehingga misi Komunitas dapat efektif dan efisien.
BPBD Sleman melakukan Pengelolaan, diawali dengan melakukan Pendataan Relawan, Data Relawan memuat beberapa hal:
1.Database Komunitas,
2.Database Relawan,
3.Data Komunitas,
4.Data Pengurus,
Data – data tersebut berisi hal-hal yang diperlukan dalam Pengelolaan Relawan, yang meliputi:
a.Nama Komunitas,
b.Alamat Sekertariat,
c.Kelengkapan Organisasi ( Tanggal berdiri, ijin, AD/ART ),
d.Anggota (alamat, No HP, Gol darah )
e.Susunan Pengurus,
f.Claster / Klasifikasi Kemampuan anggota,
g.Pelatihan yang pernah diikuti,
h.Surat Kesanggupan .
Sampai dengan tanggal 22 Maret 2015, sebanyak 38 Komunitas Relawan Kebencanaan sudah memasukan data-data ke BPBD Sleman, yang selanjutnya secara periodik dikelola secara profesional. Staf BPBD Sleman Pak Kelik mengatakan, “ hasil data yang masuk akan diolah dan dikelola dengan baik, sehingga harapan kita peran Relawan dapat tertata dengan rapi dan efektif “, ditambahkan oleh Pak Adit , “ Relawan yang terdata ini nantinya akan mendapatkan kartu anggota resmi dari BPBD, sehingga keberadaannya teman-teman diharapkan merasa nyaman dan aman “.

AGENDA KEGIATAN MASYARAKAT DI HUNTAP KUWANG ARGOMULYO CANGKRINGAN

Kehidupan bermasyarakat di Huntap Kuwang semakin lama semakin membaik, ditandai dengan beberapa kegiatan yang dilakukan di sana.

ARGOMULYO. Huntap Kuwang Argomulyo Cangkringan dihuni oleh masyarakat yang berasal dari beberapa Dusun di Desa Argomulyo Cangkringan, kususnya yang kena dampak akibat Erupsi Merapi 2010, kurun waktu 4 tahun ini situasi dan kondisi masyarakatnya nampak semakin membaik dan maju.
Huntap Kuwang terletak di Dusun Kuwang Argomulyo Cangkringan Sleman, utara Dusun Randusari, barat Dusun Losari, warga masyarakat yang tinggal di Huntap ini terdiri dari:
1. Dusun Bakalan Argomulyo, karena rusak parah terlanda Awan Panas dan tidak layak huni, hampir semua warganya pindah di Huntap ini;
2. Dusun Gadingan / Guling Argomulyo, sebagian warganya pindah di Huntap, terutama yang berada di Bantaran Sungai Gendol;
3. Dusun Bronggang Argomulyo, hampir separoh warganya pindah ke Huntap ini, erupsi 2010 merupakan dusun yang korban meninggal paling banyak;
4. Dusun Banaran / Wonokeso Argomulyo, sepertiga warga Dusun pindah ke Huntap karena rumah terlalu dekat dengan Sungai Gendol;
5. Dusun Jetis Argomulyo, sebanyak 9 KK pindah ke Huntap, karena termasuk KRB 3;
6. Dusun Karanglo, beberapa KK saja yang pindah di Huntap;
7. Dusun Jaranan Argomulyo, Sepertiga warganya pindah ke Huntap, kebanyakan karena rumahnya rusak akibat diterjang Banjir Lahar Hujan Sungai Gendol 2012;
8. Dusun Cangkringan Argomulyo, beberapa KK pindah karena rumah terkena banjir di 2012;
9. Dusun Panggung Argomulyo, beberapa KK pindah ke Huntap sebab rumah diterjang Banjir Sungai Opak;
10. Dusun Kliwang Argomulyo, sekitar 10 KK pindah karena terkena Banjir Kali Opak;
11. Dusun Teplok/Kwangen Argomulyo, beberapa pindah karena rumah mereka diterjang Banjir Sungai Opak, rumah terlalu dekat dengan Sungai.
Huntap Kuwang terbagi menjadi 7 Blok, terdiri 260 KK, 680 jiwa dengan Kepala Dusunny Bapak Eko Bejo Subekti, Semakin membaik kehidupan Warganya, salah satunya ditandai dengan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh warga, kegiatan tersebut meliputi:
1. Generasi Mudanya banyak menekuni Ternak Burung ( Kenari, Love Bird, Parkit );
2. Penggemukan Lembu ataupun ternak;
3. Home Industri Rumahan ( Ceriping Pisang, Ketela, Tales, Peyek, Tempe);
4. Kerajinan Tas dengan Lebel ‘MERAPI CRUP’;
5. Pengajian anak-anak yang tergabung dalam TPA, seminggu 2 kali;
6. Pengajian Ibu-ibu Seminggu sekali di masing-masing Blok;
7. Koprasi Simpan Pinjam Huntap;
8. Paguyupan Kelompok Tani;
9. Paguyupan KWT (Kelompok Wanita Tani);
10. Pertemuan Paguyupan Kelompok Ternak;
11. Sekolah Kamis ( Sekolah bagi kususnya Bapak dan Ibu tiap hari Kamis );
12. Kelompok Kerajinan Bambu.
Mata Pencaharian warga Huntap Kuwang bermacam-macam, ada yang PNS, Pedagang, Buruh, Penambang, dan sebagian besar Petani. Mereka saling bahu-membahu, bekerja sama dalam hidup bermasyarakat sehingga sekarang warga merasakan lebih nyaman, lebih tentram, bahkan menurut salah seorang warga Bakalan yang tidak mau disebut namanya, mengatakan “ Alhamdulillah mas pun penak sakniki, udan deres, banjir barang pun boten was-was ( Alhamdulillah sudah enak sekarang, hujan lebat, ataupun banjir sudah tidak kawatir lagi )”.

MENGENANG BEBERAPA RELAWAN YANG TERGABUNG DENGAN SKSB YANG TELAH MENDAHULUI ( MENINGGAL DUNIA )

Cukup lama kiprahmu, cukup banyak engkau berikan, selamat jalan saudaraku, semoga Alloh memberikan kebahagiaan yang abadi di SANA, Amin.

CANGKRINGAN. Beberapa anggota SKSB ( Saluran Komunikasi Sosial Bersama ) Kecamatan Cangkringan dari 2006 sampai 2015 ini, ada yang telah mendahului / meninggal dunia, diantaranya disebabkab karena sakit, dan kecelakaan.
Ada 4 (empat) anggota / Penggiat di SKSB yang telah mendahului kita / meninggal dunia, cukup lama dan banyak yang telah mereka lakukan, berkiprah, berkecimpung di Penanggulangan Kebencanaan di Cangkringan. Di erupsi Merapi 2006, Erupsi 2010, Banjir Sungai Gendol dan Opak, mereka ikut aktif bersama-sama membantu masyarakat untuk penyelamatan. Ke empat Personil tersebut adalah:
1.Almarhum Mbah Begog Singo Dimejo, alamat Kwangen, Argomulyo, Cangkringan yang meninggal tahun 2014 yang lalu karena sakit di usia 51 tahun. Di udara / Frekwensi SKSB dikenal dengan nama “ SETAN KALI IPAK “, karena beliau paska erupsi 2010 aktif sebagai pemantau aliran lahar hujan di Sungai Opak, tepatnya di Bantaran Opak Dusun Kliwang, Argomulyo;
2.Almarhum Sriyono, alamat Plumbon / Jelapan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman meninggal 2014 karena sakit di usia 49 tahun, beliau anggota SKSB sebagai Pemantau Aliran Lahar Hujan Sungai Gendol, di Gendol Buntung Plumbon, di Frekwensi di kenal dengan sebutan “PAK KUNTHET “;
3.Almarhum DRS Bambang Nurwiyono, alamat Nggathak, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, beliau sebagai Pelindung dan Penasehat SKSB yang meninggal tahun 2014 karena kecelakaan, sebagai Camat Beliau selalu aktif bersama SKSB, di Frekwensi biasa dipanggil “PAK BOBO”;
4.Almarhum H R Agus Wiyarto SE, alamat Perum. Karang jati 1, Kec. Kasihan meninggal dunia hari Senin 10 Maret 2015 karena sakit di usia 55 tahun. Beliau walau rumahnya di Bantul giatnya dalam PRB cukup banyak dilakukan di lereng Merapi, termasuk Mobil Ampivi yang terbakar di halaman rumah Alm. Mbah Marijan beberapa tahun yang lalu, adalah miliknya. Di Frekwensi SKSB beliau dengan memakai sebutan “AGUS BANTUL”, giatnya dominan di sisi utara kususnya di Dusun Kinah Rejo, Umbulharjo, Cangkringan. Beliau salah satu Penyampai Informasi SKSB dari Kinah Rejo disamping teman yang lain, dan masih banyak kiprah beliau yang lain yang tidak akan terlupakan kususnya masarakat Lereng Merapi.
Itulah anggota SKSB yang telah mendahului dipanggil Alloh Tuhan Yang Esa, doa semoga semua yang telah Beliau-beliau lakukan, kususnya membantu masarakat dalam PRB di Cangkringan, Alloh menjadikan amal Jariahnya, dan mendapat kenikmatan di Alam Kubur dan kelak mendapat Kebahagiaan di Akherat, dan harapan kita sepeninggal beliau-beliau akan muncul Relawan-relawan baru yang akan menggantikannya. Amin Amin.
.