KENANGAN ERUPSI MERAPI 2010 DI HARI GURU
Sleman, Kenangan erupsi Merapi tahun 2010 yang dimulai pada tanggal 26 Oktober 2010, dengan puncak letusan 4-5 November 2010. Peristiwa tersebut memiliki skla letusan (VEI) mencapai level 4. Menelan korban jiwa 398 orang meninggal dunia, ribuan orang mengalami luka-luka terutama luka bakar dan gangguan pernafasan. Sekitar 300.000-507.849 jiwa harus mengungsi. Berikut testimoni dari seorang kepala sekolah, Guru,dan warga ketika erupsi Merapi tahun 2010 :
- Testimoni Ramelan,SPd mantan Kepala SDN Petung, sekarang kepala SDN Bronggang Baru; Memiliki kenangan yang tak terlupakan paska erupsi SDN Petung roboh dan hangus terbakar tanpa ada sisa, sementara diarea sekitarnya rumah penduduk yang ikut hancur banyak hewan ternak (sapi) yang mati.
- Ika (43 th) Warga dusun Kaliurang Barat , sangat menguras emosi,air mata,energi dan finansial tentunya…berpindah tempat sampai 8 (delapan) kali untuk mencari radius aman, karena dari awal keluarganya mengungsi secara mandiri (awalnya cuma pulang ke Tanen ketempat orang tuanya), dan terakhir mengontrak satu rumah selama dua bulan untuk keluarga besarnya. Pulang dari pengungsian masih menghadapi permasalahan yaitu mengalami kesulitan mencari air bersih.
- Tri Hartana Yusup Staf SD BOPKRI Gondolayu tinggal di Tanen Hargobinangun merangkap ketua RW ; Kenangan erupsi Merapi 2010,terlibat dalam kegiatan relawan anggota PMI Pakem, membantu evakuasi warga masyarakat dan juga ternak. Meskipun harus berhadapan dengan awan panas. Sampai tidak tahu Ibunya mengungsi ke tempat saudaranya di Tangerang. Bersyukur yang bersangkutan diijinkan melayani masyrakat di posko pengungsian Stadion Maguwoharjo. Tri Hartana Yusup berkarya dibagian logistik yang harus menghadapi banyak orang dengan berbagai karakter.
- Aning (44th) seorang Guru P3K tinggal di dusun Panggung,Argomulyo, Cangkringan, Waktu erupsi sangat dahsyat 5 Nopember 2010 bersama keluarga mengungsi dengan mengendarai motor ke arah Gentan tempat kakak iparnya. Di perjalanan orang tuanya ( Pak Achmad Hadiyana) kehabisan bahan bakar, dan beruntung masih ada pengecer BBM,karena bersamaan dengan itu terjadi hujan kerikil dan pasir yang panas. Untuk warga yang lain dievakuasi menggunakan ambulance dari Puskesmas dan 1 mobil diisi 10 orang. Saat sampai di Gentan ada issu bahwa jarak letusan mencapai 60 km. Keluarga besar dan warga dusun Panggung mengungsi ke Corongan Kalasan dan ditampung oleh keluarga Yossy Mende dan dibantu oleh warga sekitar. Mereka mengungsi kurang lebih selama 1 (satu ) bulan. Setelah pulang mengungsi ternyata masih terancap bahaya banjir lahar dingin yang sempat menjebolkan jembatan Utara Dusun Panggung,sehingga barang-barang harus diungsikan untuk sementara waktu ke dusun Kwangen. Akibat banjir lahar dingin, beberapa rumah sempat hancur. Meski sudah 15 tahun, trauma letusan Merapi masih membekas,dan ada beberapa keluarga guru yang ikut tewas menjadi korban jiwa di dusun Bakalan.
Pak Ramelan, SPd (Ka SD Bronggang Baru dan Tri Hartono Yusup Ketua RW Tanen.