Trauma Warga Cangkringan Tinggi Menghadap Letusan Freatif Merapi Jum’at Pagi

CANGKRINGAN -SLEMAN. Jum’at pagi 11 Mei 2018, gunung Merapi meletus, dengan lontaran kolong asap setinggi kurang lebih 5,5 KM, oleh BPPTKG sifat letusan adalah Freatif.

Letusan disebabkan karena akumulasi gas Co 2 yg berlebih, hingga mendorong keluar bersama uap air dan abu.

Dampaknya lebih kecil dibanding letusan Magmatik, lontaran kerikil dan abu yg berdampak pada warga.

5

Namun suara gemuruh yg menjadikan warga lereng merapi menjadi panik dan ketakutan, seperti papar Kades Glagaharjo, ” Saya pas di rumah ( di Kalkit ), getarannya mirip 2010, suaranya gemuruh, siapa yg tidak takut dan panik, ya semua warga tanpa dikomando pada turun semua “.

Juga didengar di sekitar Argomulyo ( 15 KM dari gunung ), suaranya juga kencang, dampaknya mayoritas warga panik, bingung, mau lari ke selatan ( ada yg sudah bawa tas besar, ada yg bawa bantal, dll ).

7 Tahun erupsi dahsyat berlalu, tetapi nyata benar di lapangan, trauma warga Cangkringan kususnya masih sangat tinggi.

Dari segi kesiapsiagaan dan mitigasi sangat positif, tetapi dari segi psikis bisa mengganggu, sehingga ke depan perlu penanganan kusus di fase mitigasi.