Sejarah, Legenda Tambak Kali Gendol

TAMBAK KALI GENDOL, satu-satunya legenda sejarah budaya di Argomulyo, Cangkringan, yg ada kaitannya dengan erupsi gunung merapi.

Paparannya demikian., di tepi sungai gendol tepatnya di dusun Gadingan, terdapat makam Punggawa Kraton Surokarto yakni Patih Jayaningrat.
Masa itu kebetulan pas penjajahan Belanda, ada salah satu punggawa kraton yg mbalelo / bersekutu dg Belanda, yakni Tomenggolo.

Patih Jayaningrat diutus Raja untuk menangkapnya, Tomenggolo lari ke barat sampai lereng merapi sisi selatan.
Mereka berdua sama-sama sakti, perang berhari-hari, berpindah -pindah tempat, sampai juga di lereng gunung ( sekarang di atas tuk Mbebeng Glagahajo ).

Akirnya Tomenggolo dapat dibunuh di lereng merapi, jasadnya dibuang di tebing tuk Mbebeng Glagaharjo ( sekarang ).

Sebelum menghembuskan napasnya, Tomenggolo berucap ( jw ipat-ipat ), ” Jayaningrat ketauhilah, sepeninggal saya, saya tetap tidak terima sampai kapanpun. Sampai kamu dikuburpun, dimanapun akan saya aliri dengan lahar panas gunung nerapi ”

Namun oleh para pengikut Tomenggolo, Patih Jayaningrat juga dibunuh dengan cara yg licik yakni ditombak dari belakang.
Oleh pengikutnya Jayaningrat dimakamkan di dusun Gadingan, Argomulyo, Cangkringan ( bantaran kali gendol ).

Oleh Pemerintah Desa, legenda sejarah tsb diperingati tiap tahunnya dn nama ” Gelar Budaya Tambak Kali “.

Oleh sebagian masyarakat, ketika terjadi erupsi merapi ada kaitannya dg cerita legenda di atas.