PEZIARAHAN LERENG MERAPI ” PETILASAN MBAH MARIJAN” DAN RAMBU SETIA (bagian III)
Kapanewon Cangkringan, mengenang erupsi gunung api Merapi tahun 2010 tidak lepas dari kenangan seorang sosok sederhana nan teduh, rendah hati dan suka berbicara spontan ketika menyampaikan sebuah “wejangan” kepada banyak orang untuk tetap “eling” dan tidak serakah saat ketika meng-eksplorasi alam secara bijak dan seimbang agar alam itu tidak marah.
Mbah Maridjan, di lingkungan abdi dalem karaton Kasultanan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat lebih dikenal dengan Mas Panewu Suraksohargo sebagai juru kunci Gunung Merapi. Lahir di Padukuhan Kinahrejo (Kinahan), Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan 5 Februari 1927. Beliau diangkat menjadi jurukunci Gunung Merapi pada tahun 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX, dengan tugas tersebut almarhum sangat loyal dan setia menjalankan tugas sebagai juru kunci hingga akhir hayatnya.
Wujud penanda kekestiaannya adalah ketika erupsi Merapi beliau menolak untuk di evakuasi ketika gunung menunjukkan tanda-tanda akan terjadi erupsi besar. Ini terjadi pada saat erupsi Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 meletus dengan hebatnya disertai awan panas. Mayoritas warga setempat sudah mengungsi, namun mBah Maridjan dan beberapa orang lainnya menolak mengungsi. Mbah Maridjan meninggal dunia dalam tugas dalam posisi sujud di dapur rumahnya di Padukuhan Kinahrejo di usia 83 tahun. Penanda lainnya yang menjadi rambu bahaya merapi adalah Museum Petilasan Mbah Maridjan berupa Nisan sebagai penanda posisi dimana almarhum berada dan bersujud, dan benda-benda peninggalan termasuk mobil evakuasi serta motor Mas Asih putra almarhum Mbah Maridjan yang kini menjadi penerusnya. Semoga dengan keberadaan Museum Petilasan Mbah Maridjan semakin menambah kesadaran dan kesiapsiagaan ketika kita menghadapi bencana, khususnya ketika terjadi erupsi Merapi melalui giat dan gladi lapang secara periodik.
Foto : Diambil dari Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo.

