NAPAK TILAS SPOT JEJAK ERUPSI MERAPI 2010 (Bagian II)
CANGRINGAN, perjalanan kedua dilanjutkan mengamati jejak infrastruktur SDN Gungan yang luluh lantak tertimpa material erupsi Merapi 2010. SD Gungan membawa cerita yang tersendiri, karena seorang kepala sekolahnya Thukul Jumadi, S.Ag kala itu ingin menyelamatkan dokumen milik keluarganya yang tinggal di dusun Ngelosari, Candibinangun, Kapanewon Pakem untuk disimpan ketempat yang lebih aman yaitu di SDN Gungan yang menurut perkiraannya lebih aman dari bahaya erupsi Merapi, tetapi ternyata dokumen tersebut ikut hilang tak berbekas bersama seluruh bangunan SD Gungan tempatnya berkarya. SDN Gunganpun harus berpindah lokasi ke dusun Duwet Wukirsari Cangkringan dengan fasilitas lengkap dan cukup megah berkat dukungan bantuan dari dompet bencana alam yang dihimpun melalui Media Group dengan jumlah siswa 60 orang. Dampak erupsi Merapi 2010 memaksa terjadinya perpindahan penduduk dari kawasan rawan bencana (KRB) ke Hunian Tetap (huntap), antara lain Penduduk dusun Singlar ke huntap Gading, Glagahmalang ke huntap Jetis Sumur, Besalen ke huntap Banjarsari dan seterusnya. Infrastruktur pendidikan seperti SD Negeri Srunen pindah ke arah Timur agak selatan yaitu ke alas Panggih berkat bantuan dari Media Group yang dihimpun melalui dompet korban bencana alam dari penonton Metro TV; SD Negeri Glagaharjo dipindahkan ke lokasi barunya di dusun Jetis Sumur berkat bantuan dari PT Pupuk Kaltim Bontang, Kalimantan Timur yang semuanya dibangun pada tahun 2011. Sesungguhnya dampak erupsi Merapi yang telah memakan banyak korban mengingatkan kita semua untuk senantiasa waspada setiap saat terhadap tanda atau gejala-gejala yang terjadi pada alam, termasuk secara berkala mengadakan simulasi/ gladi lapang dalam evakuasi mandiri, pemeliharaan barak pengungsian yang ada dan kesiapan aparat, termasuk pemeliharaan jalur evakuasi.
Ket erangan foto :Dokumen pribadi





