Merapi Telemetry System kembali normal, siap pantau lahar hujan

Tampilan status map dalam kondisi normal. Dok 804.

PAKEM. 5 Oktober 2022. Terhitung sejak akhir bulan Maret pantauan curah hujan Gunung Merapi tidak berfungsi karena kerusakan pada inverter.

Setelah melalui proses perbaikan yang yang cukup lama karena terkendala teknis pada sparepart nya, pada hari kemarin sistem tersebut kembali berfungsi normal, informasi tersebut disampaikan Balai Sabo pada siang hari kemarin.

Hal ini seiring dengan kesiapsiagaan di wilayah Gunung Merapi yang sebentar lagi akan memasuki musim penghujan dan berpotensi terjadi aliran lahar hujan.
Sistem ini secara real-time menyajikan data curah hujan di enam lokasi titik rain gauge aktif yang tersebar di tiga Kabupaten. Adapun ke enam lokasi  tersebut yaitu Maron, Babadan, Gemer di wilayah Magelang, Plawangan dan Kaliadem di wilayah Sleman serta Deles di wilayah Klaten.

Dari ke tujuh rain gauge tersebut akan mengirimkan data ke server Induk Balai Sabo dan diolah dalam debris flow forecasting system, jika terjadi curah hujan tinggi akan muncul Warning Line atau peringatan dini hingga tahapan Evacuation Line, perintah evakuasi menyingkir dari bantaran sungai dan tahapan Critical Line yaitu dimana bantaran sungai harus nihil dari aktivitas manusia. Data tersebut dikirim ke Stasiun Pemantauan di tiga Kabupaten melalu repeater di Wisma PU yang ada di Kaliurang Pakem.

Sebagai langkah diseminasi peringatan dini, operator di masing-masing stasiun akan memberikan warning secara bertahap melalui siaran radio komunikasi, WA Group dan media lainnya ke seluruh komunitas di lereng Merapi agar tidak ada korban baik jiwa maupun harta benda.