Paseduluran Sekolah (Sister School) Perlu Gladi Secara Periodik
Paseduluran sekolah atau lebih dikenal dengan istilah sister school merupakan salah satu upaya pengurangan resiko bencana pada saat terjadi bencana alam yang biasanya kondisi pengungsi dalam kaadaan tak menentu atau kacau, tentu didalamnya didapati anak- anak usia sekolah yang tidak dapat bersekolah karena harus berada di lokasi pengungsian.
Dalam keadaan normal,anak- anak sekolah yang berada di sekolah siaga bencana (biasanya ssb berada di lokasi bencana) sudah secara periodik atau secara mandiri belajar gladi menyelamatkan diri (evakuasi) bersama gurunya secara terjadwal.
Dalam kondisi darurat bencana, anak – anak sekolah diupayakan dapat belajar secara normal seperti biasa pada sekolah penyangga yang sudah disiapkan sebelumnya dengan pendadakan, model alarm . Sekolah penyangga untuk anak pengungsi di Sleman baru tersedia 1 (satu) sekolah shelter yang berlokasi di SD Negeri Selomulyo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Sementara sekolah penyangga untuk sekolah yang berlokasi di kawasan rawan bencana masih berada di satu desa atau dalam satu kecamatan. Idealnya, sister school berada diluar kawasan rawan bencana (KRB) yang di lengkapi dengan peta jalur evakuasi paling singkat dan aman sebagai jalur evakuasi. Masalah klasikal yang sering kita jumpai antara lain rusaknya jalur jalan evakuasi,alarm penanda (EWS) tidak berfungsi, penunjuk arah jalur evakuasi hilang/ rusak.
Kelengkapan sister school yang masih terbatas, dan kurangnya sumber daya manusia (SDM) terlatih. Sebagai contoh, shelter school secara infrastruktur gedung sudah siap dan memadai, mebelair dan kelas siap, tetapi siswa dan guru setempat belum terlatih dan dilatih tentang model pelayanan pengungsi dan pelatihan EM ( evakuasi mandiri). Harapannya dengan pelatihan dan pendampingan secara intensif dari BPBD maupun dari LSM peduli Bencana akan semakin menambah gerakan sadar bencana termasuk di semua sekolah yang ada di Sleman sehingga pada saat muncul bencana akan semakin kecil resiko atau dampaknya ( zero risk). Pengalaman masayarakat Jepang yang dikenal dengan negeri 1000 gempa,semakin cerdas menghadapi dan menyikapi bencana bukan hanya dengan teknologi tetapi juga ketahanan dalam tanggap bencana yang selalu dihadapinya.