MEREKA YANG BERJUANG MEMPERTAHANKAN HIDUP DITENGAH PANDEMI
Adalah Bu Karsiyem pemilik Warung Sate Pak Min yang berusaha untuk tetap hidup ditengah kelesuan usahanya tetap berusaha mempertahankan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus yang dijajakan secara berkeliling oleh pengasongnya yang bernama Pak Slamet, inilah bentuk kolaborasi yang sederhana untuk saling membantu mempertahankan hidup ditengah pandemi covid 19 dan ditambah lagi dengan adanya siaga Merapi yang belum diturunkan levelnya. Menurut penuturan Bu Kar, disaat belum ada perpanjangan PSBB pendapatannya masih relatif baik, karena sore hari masih ada orang yang mau makan di warung yang dia kelola bersama Pak Yanto. Tetapi sejak ditetapkan penambahan PSBB dan Siaga Merapi pendapatan warungnya turun drastis hingga mencapai 80%, hal serupa juga dirasakan oleh museum Ullen Sentalu yang tetap berusaha buka melayani pengunjung. Lain halnya dengan bu Hana yang memilih keluar dari Hotel Kana tanpa pesangon meski sudah bekerja selama 22 tahun dan masih menanggung beban hutang. Dengan kondisi seperti itu Bu Hana mencoba mengais rejeki dengan memproduksi “Wedang Uwuh” dalam kemasan yang dijual ke pasaran per bungkus dengan kemasan plastik seharga 3.000 rupiah untuk mempertahankan hidup dan memberi makan kepada dua anaknya yang menginjak remaja dan masih balita. Pandemi bukan berarti berhenti untuk berkreasi, tetapi justru memacu memunculkan ide, gagasan, dan daya juang seseorang atau bahkan banyak orang untuk menata hidupnya, salam tangguh.
Foto : Bu Kar Warung Sate Pak Min Kaliurang, dan Bu Hana di Sidorejo,Hargobianangun,Pakem.


