MENENGOK AKTIVITAS WISATA RELIGI DI PUNCAK TURGO

PAKEM, pagi yang cerah di gunung Turgo yang berada di kaki gunung Merapi yang masih wilayah Kalurahan Purwobinangun saat dikunjungi  kecerahan semakin nampak, pepohonan  menghijau mulai dari daun bambu Petung,Kina, dan pohon Puspa yang merupakan tanaman endemik setempat tampak menghiasi tubuh gunung. Setelah sekian lama pendaki tidak diijinkan naik untuk berziarah ke Gunung Turgo yaitu makam Syech Jumadil Qubro yang oleh masyarakat Jawa dianggap menyimpan misteri dan nampak keramat dan sakral.
Pelarangan pendakian bukan sekedar  saja karena dampak pandemi Covid – 19, tetapi juga karena gunung Turgo berada di kawasan rawan bencana (KRB) yang ketika gunung Merapi mengalami erupsi sungguh akan sangat membahayakan pengunjung, karena selain masalah kesulitan melakukan evakuasi, tempatnya juga cukup curam.
Penduduk dusun Turgo dan Tritis, Purwobinangun, Pakem pun sudah memiliki hunian tetap (huntap) dan Barak Pengungsian di dekat Kalurahan Purwobinangun. Namun karena dusun tersebut merupakan warisan leluhur, sebagian warga masih  memilih bertahan di dua dusun tersebut dengan mengandalkan hidup membuka warung makan, berkebun, dan beternak.

Satu hal tentang tradisi,  sebagian penduduk setempat khususnya yang usia tua masih memiliki kearifan lokal yaitu dengan menggunakan ilmu titen untuk melihat tanda-tanda bahaya yang akan terjadi. Saat Merapi akan meletus atau punya gawe, mereka sudah hafal dan dengan menggunakan alat tradisional berupa kenthongan yang dipukul bertalu-talu sebagai informasi atau penanda akan adanya bahaya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, peralatan sederhana tersebut mulai tergeser ditinggal, dan digantikan dengan peralatan yang dianggap lebih modern dan cepat menyampaikan pesan tanda bahaya seperti early warning system (EWS).

Perlu diketahui bahwa pengunjung kawasan wisata religi Gunung Turgo biasanya selain berasal dari penduduk lokal yang berasal dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan bahkan dari luar pulau Jawa. Mereka hadir pada hari-hari pasaran tertentu misalnya di hari Selasa Kliwon atau malam Jum’at Kliwon, dan tidak menutup kemungkinan mereka hadir di hari- hari biasa tanpa harus berpegang pada hari pasaran tertentu.

Foto : Pemandangan dari Puncak Turgo dan aktifitas pengunjung di Makam Syech Jumadil Qubro.