BPBD Sleman Susun SOP Penanggulangan Bencana Merapi Di Masa Pandemik Covid 19

Paska letusan 21 Juni 2020 tubuh Merapi mengalami penggembungan atau Deformasi, hal ini terjadi karena ada peningkatan aktivitas magma di perut Merapi.
Walau prosentase peningkatan relatif kecil namun warga sekitar Merapi perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, kata Kepala BPPTKG Hanik Humaeda.

Deformasi bisa sebagai tanda tumbuhnya kubah lava baru, atau bahkan memicu terjadinya letusan.

Indikasi tersebut di atas ditindak lanjuti oleh para pegiat kebencanaan di sekitar Merapi, baik di wilayah DIY maupun Jawa Tengah.

Salah satunya adalah yg berada di selatan Merapi, BPBD Kabupaten Sleman beserta pegiat yg lain seperti Komunitas Relawan, Unit Op, Unit Lak.

Apalagi di masa Pandemik Covid 19 yg masih mewabah ini, bila Merapi naik aktifitasnya sampai berdampak terjadinya pengungsian, BPBD Sleman sudah menyusun SOP / Renkon PB di masa Pandemik Covid 19.

SOP disusun untuk Desa-desa yg terdapat barak pengungsian, tersebar di beberapa Desa seperti di Desa Argomulyo, Sindumartani, Tirtomartani, Umbulmartani, Wukirsari, Hargobinangun, Purwo binangun, Girikerto, Donokerto dll.

Renkon / SOP memadukan antara Rencana Penanggulangan Bencana Merapi yg sudah ada dengan Protokol Kesehatan Covid 19 dan penanganan pengungsi yg berbasis keluarga.

Dengan telah disusunnya SOP ini, bila di masa Pandemik Merapi harus meletus dan berdampak penanganan pengungsian, maka semuanya diharapkan dapat ditangani dengan baik.