Covid 19 : Di Beberapa Wilayah, Warga Belum Siap Menghadapi Dampak Terburuk

CANGKRINGAN. Bencana Non Alam wabah virus Corona yg belakangan disebut Covid 19, dampaknya bukan saja kurban menjadi sakit, tetapi lebih dari itu yakni menyebabkan kematian.

Hal demikian berakibat di sebagian masarakat menjadi takut, panik, resah, gelisah, tetapi ada juga yg menganggap sepele bahkan cenderung meremehkan.

Kultur masarakat cara mensikapi wabah ini terpecah menjadi 2, sehingga program Pemerintah yg sedang digencarkan yakni memutus rantai penyevaran Covid 19 menjadi kurang mendapat dukungan secara maksimal.

Laju perkembangan penyebaran Covid 19 yg begitu signifikan yg beresiko si kurban menjadi sakit hingga meninggal dunia, nampaknya sebagian warga masarakat belum siap menghadapinya.

Contoh kasus yg terjadi di salah satu dusun di wilayah desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman, ketika salah satu warganya dinyatakan Reaktif dari hasil Repid tes, apa yg terjadi, muncul ketakutan, kepanikan, konflik sosial, saling curiga, saling menjauh, saling sindir.

Wabah datangnya terlalu cepat sedang menejemen resiko belum tertata, mitigasi terjadi tarik ulur, sehingga kesabaran, keuletan dan ketangguhan menjadi sarat mutlak dipunyai oleh Tim Covid Dusun.

Apabila ditangani dengan gegabah, emosional dan egoisme, maka kerja Tim Covid dusun akan macet, ceos bahkan dusun bisa lumpuh.