Cangkringan : Menakar Kapasitas Barak Pengungsian Dan Permasalahannya

CANGKRINGAN. Dampak setiap erupsi merapi adalah adanya pengungsian / evakuasi orang, ternak dan kendaraan.

SOP penanganan pengungsi di Merapi, mengisaratkan pada status Siaga, sesuai rekomendasi BPPTKG, mulai dilakukan pergeseran / evakuasi bagi kelompok rentan dan hewan ternak, ke barak yg sudah ditentukan.

Barak – barak pengungsian kebanyakan berada di Desa Penyangga ( Desa di bawahnya dalam radius aman ).
Desa tsb diharapkan menyiapkan barak beserta sarana penunjang untuk penanganan pengungsi yg datang.

Oleh BPBD sudah dilakukan program pendataan barak, Sister Village ( Paseduluran Desa ), dengan harapan hal ini akan mempermudah dan memperlancar penanganan pengungsi.

Namun di lapangan tak lepas dari permasalahan dan kendala yg bisa saja muncul ketika proses pengungsian berlangsung, sehingga perlu diantisipasi dan dicari solusinya.

Seperti yg dikeluhkan salah satu Kaur Desa Umbulharjo Cangkringan, yg biasa mengurusi pengungsi, kata beliau ” Memang sudah ada sister Village, tapi baru sebatas penanda tanganan MOU, sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya, bagaimana menejemennya, barak ternaknya gimana, jika jumlah pengungsi Overlood gimana solusinya, kantong parkirnya di mana, harapan kami ada upaya tindak lanjutnya, sehingga kami bersama pengungsi tak canggung lagi jika harus ke barak penyangga “.

Juga yg dikawatirkan ketua Destana Argomulyo, ” Bisa jadi Pengungsi jauh melebihi dari kapasitas barak kami, hal parkir mobil perlu dipikirkan karena jumlah kepemilikan mobil sodara sodara kita di atas sekarang banyak sekali, bisa jadi kita sulit mencarikan tempat parkirnya, juga barak ternak masih kendala, belum lagi fasilitas barak belum lengkap, sehingga permasalahan barak harus segera dicari solusinya “.