Lereng Merapi, Stok Material Menipis Permintaan Tinggi, Resiko Penambangan Liar ?
C A N G K R I N G A N. Material merapi sangat diminati bagi para kontraktor / pembangunan, tiap hari ratusan armada truk keluar masuk mengambil pasir, batu atau kerikil.
Puluhan bahkan ratusan penambang, beraktifitas mencari material, baik tengah sungai gendol, opak, kuning atau kali woro, baik manual maupun menggunakan alat berat. Bahkan sudah nerambah di lahan – lahan produktif milik warga.
Semakin lama permintaan tidak semakin surut, tetapi sebaliknya, sedangkan ketersediaan material makin berkurang.
Hal ini memicu pola penambangan liar bermunculan, penambangan yg tidak memikirkan amdal, tidak peduli kerusakan lingkungan ( misal rusaknya proses serapan air, matinya mata air ).
Hal tsb sudah terjadi di beberapa tempat di wilayah utara dekat nerapi, sebagian penambangan di lahan-lahan pekarangan dengan kedalaman yg menyalahi amdal ( terlampau dalam ).
Dipicu harga tinggi, material sedikit, akirnya para penambang berbuat asal pendapatan banyak, tak memperdulikan resiko kerusakan lingkungan.
Maka hal demikian kalau didiamkan, aparat terkait instansi berwenang tidak ambil tindakan, Yg terjadi adalah kerusakan lingkungan, masalah air, kekeringan dsb.
