PERLUKAH PERINGATAN DINI BENCANA ALAM AKIBAT ULAH MANUSIA (Man Made Disaster)

Pembahasan masalah bencana tak akan pernah habis karena selalu terkait dengan masalah keselamatan hidup manusia dan harta bendanya yang kemudian diestimasi dengan dampak kerugian akibat bencana tersebut. Hal yang jarang diungkap adalah bagaimana manusia bersikap terhadap kebiasaan hidupnya, perilaku hidup yang memungkinkan karena akibat ulahnya sendiri dapat mengancam hidupnya dan mengancam hidup orang lain yang berada di sekitarnya.
Banyak kejadian/ bencana alam yang muncul karena ulah manusia yang berdampak luas, misalnya pertama,perambahan hutan, penebangan laiar yang membabi buta di kawasan hutan lindung, sehingga hutan yang mestinya berfungsi untuk menahan air hujan tidak mampu lagi menampung curah hujan, akibat yang ditimbulkan munculnya banjir bandang di kawasan hilir karena fungsi hutan dan kawasan penyangga berkurang drastis karena alasan kebutuhan ekonomi.
Kedua, ketidak seimbangan ekosistem hutan dari pengalaman erupsi Merapi tahun 2010 meski jenis erupsi ini bukan buatan manusia, tetapi ketika ada gerakan penghijauan di kawasan lereng Merapi banyak tanaman penghijauan yang dibabat dengan alasan mengganggu tanaman hijauan ternak sehingga prosentase keberhasilan kegiatan meng- hutankan kembali terancam gagal. Dampaknya yang pasti diketahui adalah debit air dari sumber – sumber air di sekitar lereng gunung terancam pemulihannya, dan penyimpanan air hujan mengalami kesulitan, serta bila curah hujan diatas normal dapat pula mengakibatkan banjir.
Ketiga, rusaknya kawasan arboretum, kawasan ini adalah kawasan hutan bambu yang sangat kuat menyangga dan mengikat tanah dan air yang berada di kawasan lereng lereng sungai namun ada kecenderungan pemusnahan karena daerah tersebut diambil pasirnya, akibat yang muncul ketika kemarau kawasan sekitar mengalami bencana kekeringan dan sumber air bagi kebutuhan manusiapun hilang.
Keempat, penambangan liar, yang sering dijumpai untuk penambangan liar ini adalah penambangan galian golongan C (pasir). Sebelum dan sesudah erupsi Merapi 2010 jenis tambang ini menjadi tambang yang menggiurkan bagi masyarakat sekitar karena dapat mendongkrak kehidupan masyarakat. Tetapi ketika pasca erupsi dan pasir semakin langka, penambangan beralih kekebun/ladang milik penduduk dan bahkan mengarah ke penggerusan bibir sungai . Penambangan pasir menjadi ekstrim karena menggunakan alat berat seperti Back Hoe (baca : begho) dan penambangan manual,selain merusak ekosistem penambangan jenis ini juga mengancam jiwa penambang sendiri yaitu tertimbun longsoran pasir/ tanah. Berkali -kali kejadian longsor akibat penambangan pasir ini tidak membuat jera bagi penambangnya. Upaya pemerintah lewat kebijakan perda yang mengatur tampaknya belum mampu mengatasi persoalan ini. Damapak penambangan ini selain mengancam penambang dapat berdampak luas yaitu banjir, kekeringan, musnahnya sumber air yang sebenarnya menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia.
Harapan, tulisan ini dimaksud untuk menggugah siapa saja agar semakin peduli alam dan ikut menjaganya, semoga.